Porsi Batu Bara Naik, Target EBT Tak Tercapai?

Target bauran energi baru terbarukan (EBT) 2025 berpotensi tak tercapai. Masalah pertumbuhan ekonomi hingga kebijakan jadi faktor yang berpotensi besar mengganjal tercapainya target tersebut.

Berdasarkan bauran energi Dewan Energi Nasional 2025, target EBT ditetapkan sebesar 25%. Bauran energi tersebut ditetapkan untuk berbagai kebutuhan mulai dari listrik hingga transportasi. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut terutama untuk kelistrikan Indonesia menggunakan beragam sumber energi seperti minyak bumi, batu bara, gas dan energi terbarukan.

Beberapa sumber EBT yang digunakan untuk pembangkit listrik di Indonesia berasal dari air, angin, tenaga surya hingga panas bumi. Pemerintah terus mendorong porsi penggunaan EBT untuk menurunkan dampak Gas Rumah Kaca (GRK) yang merusak lingkungan dan menyebabkan ekonomi menjadi tidak sustain.

Kapasitas pembangkit listrik EBT sejak 2015-2019 terus mengalami peningkatan. Pada periode tersebut porsi EBT yang paling banyak berkontribusi masih didominasi oleh tenaga air, disusul oleh panas bumi dan energi.

Bauran pembangkit listrik EBT tersebut hingga tahun 2019 porsinya baru mencapai 12,36%. Bauran energi listrik untuk listrik masih didominasi oleh batu bara hingga lebih dari 60%. Masih sangat jauh dari target tahun 2025. Banyak yang pesimis target bauran energi 2025 akan tercapai.

Baca Juga : Batu Bara Nyaman, Minyak Geram!

Mengutip laporan BPPT, sebenarnya potensi EBT di Indonesia cukup tinggi namun belum dimanfaatkan secara optimal sehingga belum dapat mencapai target bauran energi seperti diamanatkan dalam kebijakan energi nasional.

Faktor Menghambat Bauran Energi

Setidaknya ada beberapa faktor yang menghambat tercapainya bauran energi tersebut. Pertama target bauran energi yang ditetapkan berdasarkan asumsi pertumbuhan ekonomi di angka 7%. Nyatanya sejak 2014 pertumbuhan ekonomi Indonesia mentok di angka 5%.

Menurut hitung-hitunganBPPT, jika angka pertumbuhan ekonomi tak segera keluar dari zona 5%. Maka capaianEBT dalam bauran energi nasional di tahun 2025 mentok di 13-14% saja.

Pemanfaatan EBT juga terkendala oleh kesenjangan geografis antara lokasi sumber energi dengan lokasi kebutuhan energi serta biaya investasi teknologi energi berbasis EBT yang masih mahal.

BPPT mencontohkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Penggunaan PLTS masih terkendala dengan biaya investasi yang mahal terutama untuk komponen penyimpan energi dalam bentuk baterai maupun masalah pembebasan lahan.

Sementara pemanfaatan energi angin dalam bentuk PLTB masih memiliki beberapa tantangan yang dihadapi mengingat Indonesia adalah wilayah katulistiwa yang memiliki potensi angin yang tidak stabil dan juga masalah harga jual listrik yang masih murah.

Kendala tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah dalam membuat kebijakan ataupun regulasi yang dapat memacu pemanfaatan teknologi energi berbasis EBT. Baik untuk sektor ketenagalistrikan maupun sebagai bahan bakar untuk substitusi BBM di sektor-sektor lain.

Pemerintah perlu kerja keras untuk membawa keluar ekonomi RI dari angka 5%. Perlu racikan kebijakan yang efektif untuk mendatangkan investasi terutama di sektor EBT ini.