PLTP Pertama dan Tertua di Indonesia

PLTP Pertama dan Tertua di Indonesia

PLTP-Pertama-dan-Tertua-di-Indonesia
PLTP Pertama dan Tertua di Indonesia

Pengalaman dijajah Belanda selama ratusan tahun tak hanya meninggalkan luka bagi warga Indonesia. Kuasa mereka yang dimulai sekitar 1800-an di Indonesia ternyata menjadi awal mula penemuan sumber energi panas bumi yang kemudian dimanfaatkan jadi listrik hingga saat ini.

Sumber panas bumi tersebut terletak di Kamojang, Gunung Gajah yang merupakan gugusan Gunung Guntur, Kecamatan Ibun, Kabupaten Garut, Jawa Barat yang pertama kali ditemukan Belanda pada 1918.

Potensinya setara 300 Mega Watt (MW) yang menjadi cikal bakal Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang.

Setelah itu, pada 1926-1928 dilakukan pengeboran 5 buah sumur oleh “Netherland East Indies Vulcanological Survey”. Kala itu, satu sumur masih mengeluarkan uap hingga sekarang. Kedalaman 60 m, suhu 140 C, tekanan 3.5 – 4 bar.

Pada 1971, kerja sama penyelidikan ilmiah antara Pemerintah RI dengan Selandia Baru yang dilanjutkan pada 1972 pengeboran sumur eksplorasi, kerja sama dengan Geothermal Energy New Zealand Ltd. (GENZL). 

“Eksplorasi sejak jaman Belanda. Baru dikembangkan tahun 80-an oleh Pertamina Geothermal Energy. Dari situ jadi pembangkit listrik oleh PT PLN (Persero) dan PT Indonesia Power,” kata Direktur Operasi I Indonesia Power, Hanafi Nur Rifa’i di PLTP Kamojang, Garut, Sabtu (14/3).

Setelah berhasil produksi dan Unit 1 dioperasikan pada 22 Oktober 1982, pada 7 Februari 1983 Presiden Soeharto meresmikannya sebagai PLTP pertama di Indonesia.

Baca Juga: Pembiayaan Pembangkit Listrik Berbasis Batu Bara Masih Menarik

Kapasitas listriknya 33 MW. Setelah itu, pengembangan unit terus dilakukan, termasuk memperbesar kapasitas listriknya. 

Hingga kini, di PLTP Kamojang ada tiga unit pembangkit yang beroperasi. Unit kedua pertama kali beroperasi pada 29 Juli 1987 dan unit ketiga pada 13 September 1987, masing-masing kapasitasnya 55 MW. Kini, produksi listriknya mencapai 2,4 giga watt hour per tahun. 

“Total kapasitasnya di Kamojang sekitar 140 MW,” kata Ahli Madya Panas Bumi PLTP Kamojang Danu Sito Purnomo.