Pihak Smelter Diminta Serap Nikel Kadar Rendah

Pihak Smelter Diminta Serap Nikel Kadar Rendah

Pihak Smelter Diminta Serap Nikel Kadar Rendah
Pihak Smelter Diminta Serap Nikel Kadar Rendah

Penambang nikel tanah air saat ini sedang berkeluh kesah.

Mereka mengeluhkan soal harga nikel yang masih di bawah Harga Patokan Mineral (HPM) yang ditetapkan pemerintah.

Pihak smelter yang hanya mau menyerap bijih nikel kadar tinggi di atas 1,8%, tepatnya 1,9% dan 2%.

Pemerintah melalui Staf Khusus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bidang Tata Kelola Mineral dan Batu Bara, Irwandy Arif.

Ia mengakui memang sudah seharusnya ada peraturan dari pemerintah terkait penyerapan kadar nikel oleh perusahaan smelter di dalam negeri.

Apalagi, nikel sebagai komoditas adalah sumber daya alam yang terbatas, cadangan bijih nikel kadar tinggi (saprolite nickel) hanya sekitar 930 juta ton, seperempat dari bijih nikel kadar rendah (limonite nickel) yang mencapai 3,6 miliar ton.

Dengan demikian, perlu diatur sedemikian rupa agar cadangan bijih nikel kadar tinggi ini tidak cepat habis.

Perlu diketahui, saprolite nickel ini memiliki kandungan nikel tinggi yakni 1,5%-2,5%. Sementara limonite bisa lebih rendah dari 1,5%.

“Persoalannya sekarang, harus ada kebijakan dari pemerintah, harus memberikan batasan-batasan supaya jangan sampai smelter sekarang hanya membeli nikel kadar tinggi,”.

Salah satu upaya yang bisa dilakukan yaitu dengan pengaturan pencampuran (blending).

Sehingga, perusahaan smelter tidak hanya membeli nikel berkadar tinggi, tapi juga berkadar rendah. Namun ini juga harus diawasi oleh pemerintah.

“Misalnya kebijakan bagaimana melakukan blending atau percampuran, bagaimana di dalam kontraknya mereka juga dapatkan pengawasan dari pemerintah, sehingga dapat perimbangan dari penggunaan bijih nikel kadar tinggi atau rendah,” tuturnya.

Baca Juga: Pemanfaatan Energi Baru Terbarukan Baru 2,5%

Untuk memanfaatkan nikel kadar rendah ini, maka kini beberapa perusahaan tengah mengembangkan proses hydro metalurgi atau dikenal dengan smelter High Pressure Acid Leaching (HPAL).

Pada akhirnya, ini bisa menjadi bahan baku baterai kendaraan listrik.