Petrosea Dapat Rezeki Rp 525 M dari Freeport

Petrosea Dapat Rezeki Rp 525 M dari Freeport

Petrosea Dapat Rezeki Rp 525 M dari Freeport
Petrosea Dapat Rezeki Rp 525 M dari Freeport

Saat ini, investor kawakan Lo Kheng Hong memegang saham PTRO, anak usaha Indika Energy, 13,43%.

PT. Indika Energy Tbk (INDY) sendiri memegang sebesar 69,80% dan publik 16,77%.

Lo Kheng Hong yang terkenal sebagai salah satu investor sukses Tanah Air, juga memegang saham anak usaha INDY lainnya yakni emiten logistik dan jasa transportasi laut PT. Mitrabahtera Segara Sejati Tbk. (MBSS).

Di MBSS, tahun lalu Lo Kheng Hong memegang 5,57%, sementara sisanya dipegang PT. India Energy Infrastructure 51%, The China Navigation Co Pte Ltd 25,68%, dan publik 17,75%.

Pada kuartal I-2020, dari sisi kinerja laba, Petrosea mencetak laba bersih US$ 4,21 juta atau Rp. 62 miliar. Naik 36% dari periode yang sama di tahun lalu US$ 3,09 juta.

Pendapatan tersebut setara dengan Rp. 1,52 triliun (kurs Rp. 14.700/US$), atau turun 10,06% dari periode yang sama tahun 2019 yakni US$ 115,15 juta atau Rp. 1,69 triliun.

Berdasarkan laporan keuangan kuartal I-2020, mengingat laporan keuangan kuartal II-2020 masih di-review terbatas.

Tercatat pendapatan terbesar PTRO berasal dari bisnis pertambangan yang mencapai US$ 60,24 juta.

Disusul pendapatan bisnis jasa US$ 18,99 juta, konstruksi US$ 14,34 juta, rekayasa US$ 8,91 juta, dan lainnya US$ 1,09 juta.

Adapun pendapatan yang berasal dari pihak berelasi paling besar disumbangkan oleh penambangan dari PT. Kideco Jaya Agung sebesar US$ 28,17 juta.

Turun dari sebelumnya US$ 25,65 juta. Kideco adalah perusahaan tambang batu bara yang tergabung dalam Grup Indika.

Baca Juga: Petrosea Jadi Yang Terdepan di Transformasi Industri Tambang

Sementara itu, rincian pelanggan dengan transaksi lebih dari 10% dari total nilai pendapatan perusahaan yakni disumbang PT. Freeport Indonesia sebesar US$ 35,69 juta atau setara dengan Rp. 525 miliar, melesat 48% dari periode yang sama tahun lalu US$ 24,15 juta.

Pendapatan dari pelanggan lain yakni dari PT. Indonesia Pratama Coal sebesar US$ 21,89 juta. Turun dari sebelumnya US$ 23,84 juta.

Kemudian PT Binuang Mitra Bersama sebesar US$ 10,18 juta, dari sebelumnya US$ 13,38 juta.

Dan terakhir PT. Maruwai Coal sebesar US$ 256.000, ambles dari sebelumnya US$ 17,74 juta.