Pesimisme Kesepakatan AS-China Minyak Dunia Melemah

Harga minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman Desember turun 0,67 poin ke level US $57,05 per barel di New York Mercantile Exchange pada akhir perdagangan Senin (18/11/2019).

Sementara itu, minyak Brent untuk kontrak Januari melemah 0,86 poin ke level US $62,44 di ICE Futures Europe Exchange yang berbasis di London. Minyak mentah patokan global diperdagangkan dengan premium US $5,30 terhadap WTI untuk bulan yang sama.

Minyak turun paling dalam sejak dua pekan terakhir dari level tertinggi delapan pekan, di tengah prospek resolusi perdagangan AS-China yang sudah berjalan lama.

Dilansir Bloomberg, pejabat pemerintah China dilaporkan pesimis terhadap peluang kesepakatan dengan AS. Sementara itu, pemerintah AS mengeluarkan laporan yang memprediksi peningkatan produksi minyak shale bulan depan.

Baca juga artikel terkait Pesimisme Kesepakatan AS-China Minyak Dunia Melemah: Menanti Keajabaiban Tambang Emas Yang Berawal dari Mimpi

“Pasar tampaknya khawatir tentang pembicaraan perdagangan AS-China,” kata Michael Loewen, direktur strategi komoditas di Scotiabank.

“Ada beberapa pesimisme di sekitarnya, terutama karena keengganan Presiden Trump untuk menurunkan tarif untuk barang-barang China,” lanjutnya, seperti dikutip Bloomberg.

Sementara itu, Energy Information Administration memperkirakan produksi minyak mentah utama AS meningkat sebesar 49.000 barel per hari menjadi 9,13 juta pada bulan Desember. Produksi di Permian diperkirakan akan tumbuh 57.000 barel per hari bulan depan.

Minyak Mentah – Minyak Dunia Melemah

Minyak mentah belum bergerak di atas batas US $60 per barel sejak pertengahan September di tengah sinyal yang bertentangan mengenai kesepakatan perdagangan AS-China.

Sementara itu, perusahaan eksplorasi minyak milik negara Arab Saudi memangkas target valuasi penjualan saham perdana (IPO) dan mengabaikan rencana untuk memasarkan penawaran di pusat-pusat keuangan internasional utama.

Arab Saudi akan menjual hanya 1,5 persen saham Aramco dan menetapkan target valuasi pada kisaran US $1,6 triliun hingga US $1,71 triliun.

Raksasa energi ini membatalkan langkah roadshow IPO di London, yang dijadwalkan pada Rabu, setelah sebelumnya memutuskan untuk tidak melakukan IPO di AS, Kanada, atau Jepang. Kesepakatan sekarang terutama akan bergantung pada keluarga kaya Saudi dan investor lokal lainnya.