Permintaan Tiongkok Berkurang, Minyak Turun ke Level Terendah

Harga minyak dunia turun ke level terendah sejak Desember 2018 pada akhir perdagangan Senin atau Selasa pagi WIB (11/2/2020), tertekan melemahnya permintaan Tiongkok di tengah wabah virus korona.

Para pialang juga menunggu apakah Rusia akan bergabung dengan produsen lain dalam upaya pengurangan produksi lebih lanjut.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman April turun US$ 1,20 atau 2,2 persen menjadi US$ 53,27 per barel. Sementara minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret turun US$ 0,75 atau 1,5 persen menjadi US$ 49,57.

Penurunan tersebut membuat Brent dan WTI berada di wilayah oversold masing-masing selama 13 hari dan 14 hari. Garis bearish terpanjang sejak November 2018.

Minyak-Turun-ke-Level-Terendah
Minyak Turun ke Level Terendah

Minyak telah turun lebih dari 25 persen dari puncaknya pada Januari 2020 dengan minyak mentah AS (WTI) kembali di bawah US$ 50 per barel setelah virus memukul permintaan di Tiongkok. Yang mana Tiongkok adalah importir minyak terbesar di dunia, dan memicu kekhawatiran kelebihan pasokan global.

“Pasar minyak terus mengalami tekanan akibat virus korona, yang telah membuat sektor transportasi dan manufaktur Tiongkok tidak bergerak,” kata analis di Eurasia Group dalam sebuah laporan.

Pabrik Penyulingan Jadi Kambing Hitam

Impor minyak mentah dan gas alam Tiongkok anjlok karena sebagian besar pabrik penyulingan memotong operasinya. Sementara terminal impor memangkas pesanan untuk pengiriman baru dan beberapa telah menyatakan force majeure.

Baca Juga : Aturan Transportasi Ekspor Berdampak Pada Batubara dan Sawit

Kekhawatiran atas pasokan tidak berkurang pada Jumat (7/2/2020) ketika Rusia mengatakan perlu lebih banyak waktu untuk memutuskan rekomendasi dari komite teknis yang telah menyarankan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya mengurangi produksi lagi 600.000 barel per hari (bph).

Grup, yang dikenal sebagai OPEC+, telah menerapkan pemotongan 1,2 juta barel per hari sejak Januari 2019. Hal ini dilakukan untuk mengurangi kelebihan pasokan global dan menopang harga minyak mentah.

Menteri Perminyakan Aljazair Mohamed Arkab mengatakan pada Minggu (9/2/2020) komite telah menyarankan pengurangan produksi lebih lanjut sampai akhir kuartal kedua.

Menteri Energi Rusia Alexander Novak mengatakan Moskow membutuhkan lebih banyak waktu untuk menilai situasi.