Permintaan Terancam, Harga Minyak Jatuh Lagi

Harga minyak jatuh lagi, hal ini dikarenakan kekhawatiran mengenai dampak wabah virus corona (coronavirus) baru di China terhadap permintaan energi.

Namun, kemerosotan harga pada akhir perdagangan Kamis (23/1/2020) sedikit dibatasi oleh penurunan tak terduga dalam persediaan minyak mentah AS dan langkah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk tidak menyatakan virus tersebut sebagai darurat kesehatan global.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Maret 2020 merosot US$1,15 dan berakhir di level US$55,59 per barel di New York Mercantile Exchange.

Energy Information Administration (EIA) melaporkan penurunan sebesar 405.000 barel dalam stok minyak mentah pekan lalu. Laporan ini mengejutkan mengingat American Petroleum Institute (API) sebelumnya melaporkan lonjakan persediaan minyak mentah domestik.

Laporan EIA juga menunjukkan peningkatan stok bensin sebesar 1,75 juta barel, terkecil sejak September. Di sisi lain, persediaan minyak distilat turun 1,19 juta barel.

“Data EIA konstruktif dan menguntungkan, terutama karena penurunan stok minyak mentah. Ini dilaporkan ketika pasar memperkirakan kenaikan,” tutur Brian Kessens, manajer portofolio di Tortoise.

Darurat Kesehatan Global?

Permintaan-Terancam-Harga-Minyak-Jatuh-Lagi
Permintaan Terancam, Harga Minyak Jatuh Lagi

Sementara itu, WHO berpendapat masih terlalu dini untuk menyatakan darurat kesehatan global atas virus ini. Komite ahli yang dihimpun oleh WHO memilih untuk terus memantau wabah itu. Virus ini telah merenggut belasan nyawa dan menginfeksi ratusan orang.

Baca Juga : Target EBT di 2025, 80% Mengandalkan Dana dari Swasta

“Pasar minyak mentah sebagian merespons keputusan itu,” ujar Rebecca Babin, pedagang energi senior di CIBC Private Wealth Management, seperti dilansir Bloomberg.

“Terlepas dari apa yang dikatakan WHO, fakta bahwa kita mungkin melihat permintaan dirugikan adalah apa yang benar-benar menjadi fokus pasar,” tambahnya.

Harga minyak telah tertekan kekhawatiran dampak virus tersebut terhadap perjalanan. Terutama menjelang liburan Tahun Baru Imlek, migrasi manusia terbesar di dunia.

Goldman Sachs Group Inc. memperkirakan virus itu dapat mengurangi permintaan global sebesar 260.000 barel per hari tahun ini. Bahan bakar pesawat berkontribusi sekitar dua pertiga dari penurunan.

“Begitu ada bukti bahwa wabah itu terkendali dan oleh karenanya gangguan ekonomi akan segera berakhir, sentimen pada minyak akan meningkat sekaligus mengangkat harga kembali,” ungkap Pavel Molchanov, analis riset energi di Raymond James & Associates Inc.