Permintaan Lesu Harga Minyak Dunia Merosot

Permintaan Lesu Harga Minyak Dunia Merosot

Permintaan Lesu Harga Minyak Dunia Merosot
Permintaan Lesu Harga Minyak Dunia Merosot

Harga minyak mentah dunia kembali cetat rapor merah pada sesi perdagangan. Harga minyak melemah di akhir perdagangan pekan lalu.

Harga minyak turun seiring kenaikan stok di seluruh dunia dan permintaan pasar yang belum juga meningkat di tengah pandemi Covid-19. 

Tercatat, harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman November turun 23 sen atau 0,6 persen menjadi US$38,93 per barel di perdagangan London ICE Futures Exchange.

Sementara, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik tipis 3 sen menjadi US$37,33 per barel di New York Mercantile Exchange.

Kedua jenis minyak mentah dunia itu tercatat turun sekitar 6 persen dalam sepekan terakhir. Hal ini terjadi karena pengaruh dari tingginya pasokan minyak di negara-negara produsen. 

Padahal, Arab Saudi dan Kuwait telah memangkas harga jual resmi ke pasar Asia. Kenaikan pasokan juga terjadi di Amerika Serikat sekitar 2 juta barel pada pekan lalu.

Produksi di kilang-kilang minyak yang semula terhenti akibat badai di Teluk Meksiko pun telah pulih.

Sinyal kelebihan pasokan juga beasal dari tingginya penyimpanan minyak di kapal tanker oleh para pedagang. 

Sementara Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) ditambah Rusia atau OPEC+ baru akan bertemu pada 17 September mendatang.

Rencananya, pertemuan OPEC+ akan membahas soal kondisi kelebihan pasokan. 

OPEC+ sempat berencana mengurangi target produksi pada tahun depan.

Di sisi lain, pergerakan harga minyak juga mendapatkan pengaruh dari masih tingginya jumlah kasus positif virus corona atau covid-19.

Baca Juga: NASA Akan Menambang di Bulan? Mungkinkah?

Hal ini memberi pengaruh ke pasar keuangan AS. “Pasar-pasar keuangan terus mengatur suasana, termasuk di pasar minyak.

Kekhawatiran tentang kelebihan pasokan telah menambah perasaan ketidakpastian secara umum,” kata Analis Commerzbank.