Permintaan Ekspor Batu Bara RI Diproyeksikan Menurun

Permintaan Ekspor Batu Bara RI Diproyeksikan Menurun

Permintaan Ekspor Batu Bara RI Diproyeksikan Menurun
Permintaan Ekspor Batu Bara RI Diproyeksikan Menurun

Institute for Essential Services Reform (IESR) memperkirakan permintaan ekspor batu bara Indonesia akan berkurang di masa mendatang.

Hal ini sejalan dengan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) yang menginginkan batu bara tidak lagi diekspor dan digunakan sepenuhnya untuk kepentingan dalam negeri.

Selama ini 80 persen produksi batu bara nasional selalu diekspor. Sebanyak 60 persen diantaranya diekspor ke Tiongkok dan India. 

Namun belakang, kedua negara tersebut tengah mengembangkan energi baru terbarukan (EBT) dan berencana untuk mengurangi keberadaan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang menggunakan batu bara.

Apalagi Tiongkok dan India telah menyatakan akan membatasi impor batu bara. Hal ini tentu akan berimplikasi pada ekspor Indonesia.

Di sisi lain, kedua negara tersebut juga memiliki cadangan batu bara terbesar dan mulai meningkatkan produksi batu baranya.

Ke depan ekspor Indonesia kedua negara tersebut akan terkendala.

Tidak hanya kedua negara tersebut, ekspor batu bara Indonesia ke negara Asia Timur seperti Korea Selatan, Jepang dan Taiwan juga diperkirakan menurun.

Pasalnya, negara-negara tersebut secara eksplisit juga telah menyatakan akan mengurangi penggunaan PLTU.

Ekspor akan berkurang ditambah lagi dengan tekanan persaingan penjualan batu bara di pasar internasional oleh sejumlah negara seperti Rusia dan Afrika Selatan ke pasar yang didominasi oleh Indonesia.

Seiring dengan pengembangan EBT yang masif turut menekan penggunaan batu bara. Berdasarkan kajian, sebelum 2030 harga EBT akan lebih kompetitif dari batu bara.

Proyeksi produksi batu bara 2020-2024 mengalami peningkatan. Di 2020 produksi ditargetkan sebesar 550 juta ton dengan alokasi ekspor 395 juta ton dan domestik 155 juta ton.

Baca Juga: Langkah China Buat Harga Batu Bara Tergelincir

Di 2021 produksi ditargetkan sebesar 609 juta ton yang terbagi untuk ekspor 441 juta ton dan domestik 168 juta ton.

Kemudian 2020 sebesar 618 juta ton untuk ekspor 441 juta ton dan domestik 177 juta ton.

Selanjutnya di 2023 produksi sebesar 625 juta ton untuk ekspor 441 juta ton dan domestik 184 juta ton.

Serta di 2024 produksi ditargetkan sebesar 628 juta ton untuk ekspor 441 juta ton dan domestik 187 juta ton.