Perkembangan Kinerja Produsen Batu Bara Raksasa

Sejumlah produsen batu bara raksasa masih mencatatkan kinerja operasional yang positif sepanjang tahun lalu.

PT Bumi Resources Tbk misalnya. Emiten berkode saham BUMI tersebut sukses memproduksi batubara sebanyak 87 juta ton pada 2019 lalu atau tumbuh 8,34% (yoy) dibandingkan raihan di 2018 silam sebesar 80,3 juta ton.

Sekretaris Perusahaan BUMI Dileep Srivastava mengatakan, hasil produksi BUMI yang terbilang jumbo disebabkan perusahaan ini memiliki cadangan batubara yang melimpah. Saat ini, tambang batubara BUMI yang dikelola oleh PT Kaltim Prima Coal (KPC), Arutmin Indonesia, dan PT Pendopo Energi Batubara mempunyai cadangan batubara lebih dari 3 miliar ton.

Tambang-tambang batubara BUMI juga tergolong luas. Ambil contoh, KPC yang memiliki luas konsensi wilayah mencapai 90.938 hektar (Ha). Begitu pula dengan Arutmin Indonesia yang memiliki luas wilayah sekitar 57.000 Ha.

“KPC dan Arutmin memiliki cadangan yang cukup untuk 20 tahun dengan kemampuan produksi hingga 100 juta ton per tahun,” imbuh Dileep, Selasa (21/1).

Di kesempatan berbeda, GM Legal and External Affairs Arutmin Indonesia Ezra Sibarani sepakat, cadangan batubara Arutmin diklaim masih bisa dimaksimalkan selama 2×10 tahun ke depan. Tahun lalu, perusahaan ini sanggup memproduksi batubara sekitar 27 juta ton.

Baca Juga: Harga Batu Bara Turun Lagi!

Hanya memang, Arutmin Indonesia masih terganjal oleh masalah mandeknya perpanjangan kontrak Perjanjian Karya Pertambangan Batubara (PKP2B). Asal tahu saja, kontrak pertambangan Arutmin Indonesia akan berakhir pada 1 November 2020 nanti.

Arutmin Indonesia

Saat ini, Arutmin Indonesia tengah menyiapkan kajian internal terkait apa saja yang dibutuhkan dan diinginkan oleh perusahaan demi memperoleh perpanjangan kontrak.

Terlepas dari itu, bisnis batubara BUMI secara keseluruhan dipastikan tetap berjalan seperti biasa. Dileep menyebut, pihaknya sudah menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sekitar US$ 50 juta-US$ 60 juta di tahun ini.

Sebagian besar capex BUMI digunakan untuk perawatan dan pemeliharaan serta menunjang eksplorasi tambang. Manajemen BUMI pun menargetkan produksi batubara di tahun ini dapat tumbuh hingga 5%.

Sementara itu, PT Adaro Energy Tbk (ADRO) belum menyampaikan capaian produksi batubara sepanjang tahun lalu. Namun, hingga kuartal tiga 2019 kemarin, emiten ini sukses membukukan pertumbuhan produksi sebesar 13% (yoy) menjadi 44,13 juta ton. Adapun target produksi batubara ADRO di tahun lalu berada di kisaran 54 juta—56 juta ton.

Kontributor produksi batubara terbesar bagi ADRO berasal dari tambang yang dikelola anak usahanya, PT Adaro Indonesia. Per kuartal tiga kemarin, Adaro Indonesia memproduksi batubara sebanyak 39,25 juta ton. Adaro Indonesia memiliki luas wilayah mencapai 31.380 Ha yang mana kontraknya akan berakhir pada 1 Oktober 2022.

Head of Corporate Communication ADRO Febriati Nadira menyampaikan, pihaknya belum menentukan target produksi batubara pada tahun ini, termasuk dana belanja modal yang disiapkan untuk kegiatan ekspansi perusahaan.

Walau demikian, ia menyebut, ADRO akan fokus untuk mengoptimalkan tambang batubara yang ada dan belum berencana melakukan akuisisi tambang dalam waktu dekat. “Kami akan menjaga tingkat produksi guna menjaga cadangan batubara secara jangka panjang,” ujar dia, Selasa (21/1).

ADRO juga fokus menerapkan metode kegiatan operasional yang efisien di seluruh rantai bisnis perusahaan agar bisa meraih target kinerja yang ditetapkan.

Emiten tersebut juga masih mengembangkan bisnis pembangkit listrik pada tahun ini. Hasil produksi batubara ADRO nantinya akan digunakan sebagai pasokan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Bhimasena Power Indonesia dan PLTU Tanjung Power Indonesia. Kedua PLTU tersebut dikelola oleh PT Adaro Power dan akan beroperasi di tahun ini.