Perkembangan Akuisisi Perusahaan Tambang Batu Bara

Perkembangan Akuisisi Perusahaan Tambang Batu Bara

Perkembangan Akuisisi Perusahaan Tambang Batu Bara
Perkembangan Akuisisi Perusahaan Tambang Batu Bara

Dalam suasana pandemi Covid-19 PLN terus berupaya menjaga kinerja demi memasok kebutuhan energi bagi Indonesia.

PLN sedang berupaya melakukan pelebaran sayap guna tiba di sektor hulu industri energi. PLN tengah mengakuisisi sejumlah perusahaan tambang batu bara.

Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini menyatakan kepemilikan saham tersebut adalah memastikan ketersediaan batu bara untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dengan harga terjangkau, jumlah memadai, dan kontinuitas terjaga.

“Salah satunya dengan cara memiliki tambang dalam persentase tertentu sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan,” katanya dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VII, Selasa (25/8).

PLN sendiri tengah mengembangkan mega proyek pembangkit listrik 35 ribu mega watt (MW) dan 7.000 MW yang ditargetkan selesai pada 2023 mendatang.

Sementara itu, sebagian dari PLTU berbasis bahan bakar batu bara sehingga akan meningkatkan kebutuhan batu bara setiap tahun.

“Untuk masa produksi pembangkit listrik khususnya PLTU adalah 30 hingga 40 tahun. Sehingga perlu dipastikan ketersediaan batu bara selama PLTU beroperasi,” imbuhnya.

Perseroan juga memiliki entitas anak yang bergerak pada sektor batu bara, yakni PT PLN Batu Bara Investasi.

Tercatat, perusahaan sudah melakukan akuisisi saham pada sejumlah tambang batu bara.

Secara garis besar, Zulkifli menjelaskan terdapat tiga program terkait akuisisi saham tambang batu bara oleh PLN Group.

Pertama, program akuisisi saham tambang batu bara untuk PLTU mulut tambang.

Baca Juga: Freeport Indonesia Tunda Proyek Besar

Saat ini PLTU Mulut Tambang Jambi 1 berkapasitas 2×300 MW telah produksi sebesar 2,3 juta Metrik Ton (MT).

Lalu, PLTU Mulut Tambang Kalselteng 3 dengan kapasitas 2×1000 MW tengah dalam tahap pembebasan dan sertifikasi lahan.