Perjuangan 3 Srikandi dalam Divestasi Saham Freeport

Perjuangan 3 Srikandi dalam Divestasi Saham Freeport

Perjuangan-3-Srikandi-dalam-Divestasi-Saham-Freeport
Perjuangan 3 Srikandi dalam Divestasi Saham Freeport

Perjuangan divestasi saham Freeport tidaklah mudah.

Dibutuhkan proses panjang yang bahkan merupakan proses divestasi terumit sepanjang sejarah pertambangan negeri ini.

Di balik kerumitan peralihan saham itu ada tiga sosok perempuan yang berjuang mensukseskan proses divestasi sebaik mungkin namun di sisi lain harus tetap patuh terhadap regulasi yang ada.

Ketiga perempuan hebat itu adalah Sri Mulyani, Rini Soemarno dan Siti Nurbaya.

Tugas utama mereka adalah menagih janji PT. Freeport yang sudah dibahas bersama presiden-presiden Indonesia sebelumnya, yang tak kunjung dieksekusi.

Sejumlah janji yang sudah dilontarkan PT. Freeport itu yakni, divestasi saham, pembangunan smelter dan perubahan dari sistem kontrak karya tahun 1971 ke UU Minerba tahun 2009.

Secara garis besar, induk perusahaan Freeport dituntut dengan segera mungkin melunasi janji mereka tersebut kepada pemerintah Indonesia.

Sri Mulyani saat itu sangat aktif melakukan sejumlah lobby dengan pihak Freeport agar mereka mau memenuhi janji mereka.

Tak ada satu media pun saat itu yang tidak memuat nama Sri Mulyani pada setiap berita tentang peralihan saham dari Freeport ke pemerintah Indonesia.

Rini Soemarno juga cukup disibukkan dengan proses divestasi tersebut. Dirinya cukup peka melihat kondisi Freeport saat itu yang dianggap penuh dengan omong kosong.

Janji emas pengalihan saham tanpa pembayaran memang bisa dilakukan pada tahun 2021.

Baca Juga: Potensi dan Hambatan PLTP di Indonesia

Namun alih-alih mendapatkan keseluruhan, Rini melihat adanya kemungkinan teknologi tetap dikuasai asing dan tidak dilimpahkan ke pemerintah Indonesia.

Hal itu belum termasuk tuntutan hukum yang bersembunyi dan siap menjerat pemerintah kapan saja.