Peringatan! Cadangan Minyak Bumi RI Tinggal 9 Tahun

Peringatan! Cadangan Minyak Bumi RI Tinggal 9 Tahun

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan cadangan minyak bumi Indonesia diperkirakan hanya tersisa untuk 9,5 tahun lagi. 

Perkiraan habis berakar dari asumsi tidak ada penemuan cadangan baru sehingga kemungkinan cadangan minyak dan gas bumi (migas) nasional tidak akan berumur panjang.

Estimasi yang dipaparkan oleh kementerian ESDM tersebut dengan jumlah asumsi cadangan terbukti dan potensial per 1 Januari 2020 sebesar 4,17 miliar barel dan cadangan terbuktinya 2,44 miliar barel.

Ditambah lagi, asumsi angka produksi minyak sebesar 700 ribu barel per hari.

Di sisi lain, cadangan gas bumi diperkirakan masih lebih baik dibandingkan cadangan minyak bumi. Cadangan gas bumi yang ada saat ini disebut masih cukup untuk 19,9 tahun ke depan dengan asumsi tanpa penemuan cadangan baru.

Secara rinci, cadangan terbukti dan potensial gas mencapai 62,4 triliun kaki kubik (TCF) dan cadangan terbukti sebesar 43,6 TCF.

Oleh karena itu, pemerintah akan melakukan berbagai upaya agar jumlah cadangan terus meningkat sehingga bisa memperpanjang umur penggunaan cadangan gas bumi.

Berbagai strategi akan dilakukan untuk mengubah sumber daya menjadi cadangan dan mengubah cadangan menjadi produksi dengan, salah satunya, melakukan peningkatan kegiatan eksplorasi dan enhanced oil recovery (EOR).

Hal itu juga menjadi bagian upaya mencapai target produksi minyak sebesar 1 juta barel per hari pada 2030. 

Agar ketersediaan minyak bumi semakin besar dan bertahan lama, pelaksanaan eksplorasi yang masif terus didorong. Dengan demikian, diharapkan cadangan terbukti menjadi bertambah.

Baca Juga: Saham ANTM Menggila! Transaksi Tembus Rp3 Triliun Lebih

Karena semakin menipisnya cadangan minyak, maka transisi energy fosil ke energi baru terbarukan menjadi sesuatu yang harus dilakukan.

Indonesia pun memiliki potensi energi baru terbarukan (EBT) hingga 417,8 giga watt (GW). 

Dari total potensi tersebut, yang baru dimanfaatkan baru sebesar 10,4 GW atau sekitar 2,5% dari total potensi EBT yang ada.

Transisi ke EBT harus dilakukan agar Indonesia bisa bertransformasi ke EBT dalam mendorong ekonomi pasca pandemi dan Indonesia berketahanan energy.

Pemanfaatan EBT ini juga berdampak pada penurunan emisi gas rumah kaca dan membuka lapangan kerja.