Perhapi : Waspadai Kelebihan Pasok Batu Bara

Must read

Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Rizal Kasal menilai, kebijakan pemerintah terkait jumlah penambahan produksi batu bara sebesar 75 juta ton di tahun 2021 untuk penjualan ke luar negeri sudah tepat, namun tetap perlu diwaspadai. 

Menurut Rizal, produksi batu bara harus tetap dijaga agar tidak terjadi kelebihan suplai seperti yang terjadi pada kuartal IV/2019 hingga II/2020 yang membuat harga batu bara akhirnya mencapai titik terendah pada kuartal III/2020. 

“Walaupun ada kejadian luar biasa pandemi Covid-19 pada 2020, siklus batu bara memang mengalami penurunan. Namun, ditambah pandemi siklus tersebut menjadi lebih lama,” ujar Rizal. 

Adapun, harga batu bara yang kembali rebound pada kuartal IV/2020 hingga April 2021 ini diuntungkan dengan adanya larangan impor oleh Pemerintah China atas batu bara asal Australia. Selain itu, pasokan batu bara dari Australia juga sempat terganggu dengan adanya becana banjir yang menghambat suplai di pelabuhan muat Australia.

Baca Juga : Target Produksi Batu Bara 2021 Naik Jadi 625 Juta Ton

Namun, mulai awal April ini, kata Rizal, pasokan dari Australia telah berangsur normal yang kemudian mengakibatkan Index Newcastle dan Global Coal mengalami penurunan. Meski demikian, harga ICI masih sedikit meningkat.

“Pada akhirnya, harga akan mengalami kesetimbangan ke level yang wajar. Perhapi melihat harga wajar di level index HBA US$70—US$80 per ton. Dengan harga ini produsen dapat menikmati profit yang bisa menggerakkan proses pertambangan dengan baik,” tambahnya.

Menurut Pendapat Kamu ?

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest article