Percepatan Hilirisasi LTJ Demi Ekonomi RI

Percepatan Hilirisasi LTJ Demi Ekonomi RI

Percepatan Hilirisasi LTJ Demi Ekonomi RI
Percepatan Hilirisasi LTJ Demi Ekonomi RI

Logam Tanah Jarang (LTJ) merupakan mineral strategis dan penting sehingga tata kelola pemanfaatannya harus secara fokus diperhatikan.

Mengingat fungsinya yang strategis dengan cakupan manfaat yang sangat luas. Percepatan hilirisasi industri LTJ harus dilakukan untuk kemandirian dan ketahanan industri Minerba nasional.

Dalam upaya pengembangan LTJ, pada awal tahun 2020 dilakukan kajian industri berbasis LTJ yang menghasilkan keputusan untuk mendorong industri ekstraksi skandium sebagai bahan paduan aluminium dan neodimium sebagai bahan magnet permanen.

Ditemukan juga produk campuran nikel-kobalt dengan total kapasitas 26 juta ton bijih yang mengandung tailing. Atau bijih nikel laterit dari lima perusahaan pemroses bijih nikel laterit dan cadangan mineral bijih monasit sebesar 595 ton.

Dari hasil kajian tersebut, juga ditemukan bahwa potensi LTJ yang sudah tersedia dalam bentuk sisa hasil pemurnian bijih bauksit menjadi alumina.

Residu bauksit sebesar 1,3 juta ton yang merupakan produk samping dari sekitar 14,8 juta tpa bijih bauksit yang mengandung scandium.

Pemanfaatan LTJ, dalam teknologi sederhana, seperti untuk pemantik dan pemoles kaca, dalam teknologi tinggi seperti untuk monitor komputer, kabel optik dan magnet permanen dan dalam teknologi futuristik sebagai superkonduktor.

Sejalan dengan perkembangan mobil listrik dari semua negara.

Jika pada tahun 2025 ditargetkan untuk diproduksi 400.000 mobil listrik artinya akan membutuhkan 11 ribu ton nikel dan 3 ribu ton kobalt dan pada tahun 2035 ditargetkan 1,2 juta mobil listrik yang membutuhkan nikel dan kobalt tiga kali lipat dari jumlah sebelumnya. Artinya akan ada lebih banyak tailing yang mengandung LTJ.

Dengan banyaknya bahan baku LTJ ini, peluang Indonesia untuk melakukan peningkatan nilai tambah sangat terbuka lebar. 

Dari sektor pertambangan, upaya ini akan terwujud melalui upaya hilirisasi industri minerba, yang di dalamnya juga termasuk LTJ.

Melakukan pemerataan pembangunan wilayah dengan memanfaatkan industri minerba dan menciptakan industri pertambangan yang berkelanjutan berbasis reklamasi, rehabilitasi dan PETI.

Baca Juga: Petrosea Bangun Pendidikan

Dan harus dilakukan peningkatan nilai tambah sebagai bahan baku industri dalam negeri. Sehingga mampu berperan dalam pengembangan wilayah.

Serta menopang perekonomian wilayah skala besar maupun kecil, memiliki efek ganda pada industri forward backward linkage, bisa menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru dan tentunya mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja.