Penyaluran Kredit Pertambangan Diramal Seret

Penyaluran Kredit Pertambangan Diramal Seret

Penyaluran-Kredit-Pertambangan-Diramal-Seret
Penyaluran Kredit Pertambangan Diramal Seret

Ekonom memprediksi bahwa pandemi Covid-19 akan membuat jalannya penyaluran kredit untuk dunia pertambangan akan mengalami penyempitan.

Meski tercatat progresif, kredit sektor pertambangan diperkirakan akan terus melambat.

Hal tersebut seiring dengan harga komoditas serta permintaan yang rendah.

Ekonom PT. Bank Permata Tbk. Josua Pardede mengatakan laju pertumbuhan tahunan pada kredit sektor pertambangan tercatat sebesar 8,23 persen pada Mei 2020.

Namun, peningkatan pertumbuhan ini pun lebih ditopang oleh penarikan kredit valas pada Maret 2020, yang meningkat sebesar 16,84 persen secara tahunan.

“Secara bulanan, pertumbuhan sektor ini sebenarnya sudah cenderung statis. Apalagi dalam kondisi pandemi ini, harga komoditas cenderung mengalami penurunan akibat rendahnya permintaan dan masih berpotensi berlanjut,” katanya kepada Bisnis.

Berdasarkan catatan Bisnis, upaya Eropa untuk mengurangi ketergantungannya terhadap batu bara dan beralih ke energi yang lebih ramah lingkungan tampak semakin serius.

Majelis Parlemen Jerman resmi menandatangani kesepakatan untuk menghentikan penggunaan pembangkit listrik dari energi fosil batu bara.

Di samping itu, gas alam pun diperkirakan tidak akan mampu mendongkrak harganya lagi, dan akan terjebak di level US$2 per MMBtu sampai akhir tahun.

Hal ini disebabkan oleh fundamental pasar yang tengah mengalami surplus komoditas dan kebijakan China yang ingin mengurangi konsumsi gas alam.

Josua melanjutkan perbankan pun masih tergolong hati-hati dalam penyaluran kredit ke sektor ini.

Baca Juga: Sebenarnya Berapa Sih Cadangan Emas RI?

Adapun, terkait dengan kenaikan rasio kredit bermasalah, dia menjelaskan lebih disebabkan debitur sektor ini adalah korporasi yang memiliki pengelolaan arus kas relatif lebih kuat. Sehingga pengajuan restrukturisasi kredit pertambangan saat ini cenderung masih rendah.

“Lagi pula, kenaikan NPL yang signifikan hingga di atas 5 persen lebih karena adanya tren penurunan harga batu bara. Dan sejak bulan Januari lalu bukan baru-baru ini,” imbuhnya.