Pengiriman Batu Bara Tersendat Akibat Cuaca Ekstrem

Pengiriman Batu Bara Tersendat Akibat Cuaca Ekstrem
Pengiriman Batu Bara Tersendat Akibat Cuaca Ekstrem

Saat ini, beberapa wilayah di Indonesia sedang dilanda cuaca ekstrem, seperti di Kalimantan, sehingga membuat pasokan batu bara untuk kebutuhan dalam negeri, utamanya pembangkit listrik makin menipis karena pengiriman tersendat.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rida Mulyana mengatakan, pemerintah telah mengalokasikan 25% dari produksi batu bara nasional untuk kebutuhan dalam negeri (Domestic Market Obligation/DMO), termasuk untuk listrik.

Tahun ini, produksi batu bara ditargetkan sebesar 550 juta metrik ton. Dari produksi tersebut, 25 persen atau sekitar 137 juta metrik ton dialokasikan untuk DMO. 

Sementara kebutuhan batu bara untuk pembangkit di 2021 diperkirakan sebesar 115 juta ton. Artinya, dari sisi volume tidak ada permasalahan. Jika melihat angka-angka tersebut, kebutuhan DMO bisa dipenuhi.

Yang menjadi persoalan saat ini adalah kondisi curah hujan tinggi terutama di wilayah-wilayah sumber batu bara yang bisa sampai menyebabkan banjir.

Hal ini berdampak pada aktivitas hulu tambang batu bara hingga pengiriman ke hilir (pembangkit listrik). 

Baca Juga: SPKLU Kini Tersedia di Tol Trans-Sumatera

Pada saat hasil tambang diangkut harus melewati jalan yang terendam banjir, bahkan berlumpur. 

Jalanan tidak bisa dilalui sekalipun oleh truk batu bara yang besar. Hal ini tentu memperlambat waktu perjalanan pengiriman batu bara menuju ke hilir.