Pengelolaan Limbah untuk Keselamatan Lingkungan

Pengelolaan limbah dalam bidang industri memang harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Keselamatan lingkungan adalah alasan utama mengapa hal tersebut harus dilakukan

Indonesia menjadi salah satu negara yang memanfaatkan batu bara sebagai bahan bakar utama pembbangkit listrik. Meski cadangan dan produksi batu bara di Indonesia besar, pemanfaatan batu bara di Indonesia masih tertinggal dari negara lain.

Salah satu isu yang disorot dari batu bara ialah pengelolaan pemanfaatan limbah batu bara yang di Indonesia masuk dalam limbah B3

Dengan teknologi yang diterapkan yaitu Super Critical Represitator untuk me-reduce dan meminimalisasi sebaran fly ash buttom ash. Diharapkan mampu menjaga keselamatan lingkungan.

Dalam rangka  pengelolaan limbah, PT Petrosea Tbk. (PTRO) bersama PT POSB Infrastructure Kalimantan (PIK) mendirikan anak usaha baru yang bergerak di bidang tersebut.

Baca Juga : Target Setoran PNBP Energi 2019 Meleset

Berdasarkan keterbukaan informasi yang dipublikasikan Rabu (15/6/2016), pada 14 Juni perseroan bersama PIK telah mendirikan anak perusahaan baru dan telah mendapat status badan hukum pada 14 Juni 2016. Adapun, perusahaan tersebut bernama PT POSB Reksabumi Indonesia.

Anak usaha baru tersebut bergerak di bidang pengelolaan limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun) dan limban non B3. Modal dasar perusahaan sebesar Rp10 miliar dan modal disetor Rp5 miliar.

Komposisi pemegang saham dalam perusahaan baru tersebut adalah Petrosea sebanyak 4.995 saham atau Rp4,99 miliar dan PIK 5 saham atau Rp5 juta. Dengan demikian total saham sebanyak 5.000 saham atau Rp5 miliar.