Pemerintah Tegaskan Tutup Ekspor Mineral Mentah Sampai 2023

Must read

Pemerintah Tegaskan Tutup Ekspor Mineral Mentah Sampai 2023
Pemerintah Tegaskan Tutup Ekspor Mineral Mentah Sampai 2023

Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) kembali menegaskan bahwa ekspor produk mineral yang belum dimurnikan di dalam negeri akan ditutup pada 2023 nanti.  

Penghentian ekspor mineral mentah tersebut sudah sesuai dengan amanah Undang-undang Nomor 3 Tahun 2020 alias UU Mineral dan Batubara (Minerba).

Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kemenko Marves Septian Hario Seto menegaskan, dengan kebijakan tersebut, proyek-proyek smelter mineral harus selesai sesuai ketentuan tidak melebihi 2023. Hal ini juga berlaku untuk smelter tembaga yang sedang dikerjakan oleh PT Freeport Indonesia dan PT Amman Mineral Nusa Tenggara.

“Mereka (perusahaan/investor) sudah tahu kan risiko nya kalau (smelter) nggak jadi. 2023 kan mereka nggak bisa ekspor lagi. Ya amanat undang-undangnya begitu,” kata Seto pada Jum’at (5/2). 

Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Mineral dan Batubara (Minerba), pemberlakuan ekspor produk mineral logam tertentu yang belum dimurnikan diberi batas waktu paling lama tiga tahun sejak UU No.3/2020 diundangkan. 

UU Minerba sendiri disahkan dan diundangkan oleh Presiden Joko Widodo pada 10 Juni 2020. Artinya, ekspor terakhir berlaku hingga tahun 2023.

Sebagai informasi, setelah ekspor bijih nikel (ore) dilarang oleh pemerintah melalui Peraturan Menteri (Permen) ESDM No. 11 Tahun 2019, masih ada dua komoditas mineral utama yang masih diperbolehkan ekspor.

Pertama, bauksit yang dicuci (washed bauxite) kadar 42% atau lebih serta sisa hasil pemurnian komoditas tambang mineral logam tembaga termasuk lumpur anoda sebagai produk samping. Rekomendasi ekspor untuk kedua komoditas tersebut akan berakhir pada Juni 2023 sebagaimana Permen ESDM Nomor 17/2020 dan UU Minerba.

Baca Juga : APBI Usul Tarif Progresif Royalti Batu Bara Maksimal 20%

Ridwan Djamaluddin dari Dirjen Minerba juga menambahkan, pihaknya tetap akan mengejar target pengoperasian 53 smelter pada tahun 2024. Dengan begitu, seluruh proyek smelter tetap akan dikejar untuk dapat selesai pada 2023 meski ada penyesuaian rencana kerja sejumlah proyek smelter akibat pandemi Covid-19.

Badan usaha pun menyesuaikan rencana kerja. Namun dengan target akhir masih sama, pada akhir 2023 semuanya harus terbangun dan beroperasi.

Menurut Pendapat Kamu ?

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest article