Pemerintah RI Kebanjiran Proposal Nuklir

Pemerintah RI Kebanjiran Proposal Nuklir

Pemerintah RI Kebanjiran Proposal Nuklir
Pemerintah RI Kebanjiran Proposal Nuklir

Demi menopang energi berkelanjutan dan menekan penggunaan energi fosil, pemerintah saat ini sedang mempertimbangkan untuk mencari sumber energi alternatif baru.

Pemerintah mengungkapkan hingga kini sudah banyak proposal tawaran dari sejumlah perusahaan nuklir internasional untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia.

Pemerintah melalui, Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Rida Mulyana mengatakan meski sudah banyak tawaran untuk membangun PLTN, namun karena masih banyaknya pro kontra di kalangan masyarakat mengenai keberadaan nuklir ini membuat pemerintah belum bisa memutuskan untuk mengizinkan pembangunan PLTN di dalam negeri.

Berdasarkan survey yang dilakukan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) mengenai nuklir, masyarakat masih berorientasi pada kejadian bom atom di Hiroshima, sehingga banyak jawaban moderat yang disampaikan masyarakat.

“Paling moderat jawabannya ‘boleh, saya setuju tapi jangan di belakang rumah saya ya’. Ada juga yang langsung menolak,” ungkap Rida.

Namun demikian, Rida menyebut, berdasarkan survey, sebanyak 70% masyarakat sudah mulai menerima kehadiran PLTN, khususnya di Bangka dan Kalimantan Barat.

Masyarakat sudah siap dan Gubernurnya pun turut mendukung. Meski demikian, imbuhnya, 30% masyarakat yang belum setuju juga harus tetap diperhatikan opininya.

Kebijakan pemerintah yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) mengenai kebijakan energi nasional, PLTN memang tidak dilarang.

Hanya saja, imbuh Rida, Indonesia masih memiliki sumber energi baru terbarukan (EBT) lainnya yang masih melimpah.

Baca Juga: Masa Depan Industri Tambang Akan Cerah

“Semuanya Indonesia punya, mulai dari energi di bawah tanah yang berupa panas bumi, kita punya potensi terbesar di dunia karena kita punya banyak gunung api, naik ke atas tanah ada air, biomassa, sampai kemudian surya, kita ada di tropis, minimum dilewati matahari. Itu semua belum didayagunakan,” tuturnya.