Pembangkit Listrik EBT Ditargetkan Capai 19.234 MW

Demi mengaliri listrik ke seluruh penjuru negeri. Pemerintah menargetkan pembangkit listrik EBT ditargetkan capai 19.234 MW.

Untuk mencapai target perlu tambahan sekitar sembilan MW. “Target sekitar sembilan MW sampai 2024. Baurannya terdiri dari sumber energi hijau seperti hidro, surya, biomassa, bayu, panas bumi dan sebagainya,” kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin, 27 Januari 2020.

Pembangkit-Listrik-EBT-Ditargetkan-Capai-19.234-MW
Pembangkit Listrik EBT Ditargetkan Capai 19.234 MW

Secara rinci, kementerian merancang penambahan tersebut di tahun ini yakni bertambah 700 MW menjadi 10.843 MW. Selanjutnya kapasitas pembangkit listrik energi hijau ini akan naik 1.000 MW menjadi 11.843 MW pada 2021, terus bertambah menjadi 13.743 MW pada 2022, kemudian 15.543 MW pada 2023, dan mencapai 19.243 MW pada 2024.

Kendati porsi energi hijau bertambah, pemerintah masih membutuhkan pemanfaatan batu bara dalam jumlah besar. Tahun ini, jatah batu bara dalam negeri direncanakan 155 juta ton.

Selanjutnya, angka serapan batu bara domestik ini akan naik menjadi 168 juta ton pada 2021. Lalu 177 juta ton pada 2022, kemudian 184 juta ton pada 2023, dan 187 juta ton pada 2024.

Baca Juga : Industri Nikel Menarik Banyak Investasi

Pemerintah menargetkan tambahan kapasitas pembangkit tenaga listrik dengan sumber energi terbarukan mencapai sebesar 19.243 megawatt (MW) di 2024. Adapun kapasitas terpasang pembangkit energi terbarukan perlu ditingkatkan lantaran hingga 2019 kapasitasnya baru sebesar 10.157 MW.

Di sisi lain, Haris menjelaskan, adanya peningkatan jatah batu bara untuk dalam negeri lantaran masih terdapat proyek PLTU yang akan beroperasi di masa mendatang.

Namun, pihaknya memastikan pengembangan PLTU tidak akan mengganggu rencana penambahan kapasitas pembangkit listrik energi terbarukan.

“Kapasitas (pembangkit) energi terbarukan naik juga. Kemudian (pembangkit) batu bara itu share-nya cenderung tetap di sekitar 30 persen nanti di 2025,” tutup Harris.