Peluang dan Tantangan Sektor Pertambangan Pada 2019

Sektor Pertambangan masih jadi adalan pemerintah dalam penerimaan negara untuk APBN. Dirjen Minerba Kementerian ESDM bahkan optimistis sektor ini bisa menyumbang Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP)mencapai Rp 43 triliun pada akhir tahun ini.

Center of Energy and ResourcesIndonesia (CERI) mengatakan sektor pertambangan pada 2019 diperkirakan akan tumbuh sangat baik tetapi tetap harus dikontrol produksinya agar harga produknya tetap baik di pasar internasional.

Selain itu, sektor ini memiliki tantangan masalah harga pasar produk tambang yang fluktuatif dan persoalan lingkungan di sekitar tambang. Bila tidak diantispasi, lanjut dia maka kerusakan lingkungan akibat tambang ini nilainya bisa jadi lebih besar dari penerimaan negara selama ini.

Kementerian ESDM optimistis sektor ini bisa menyumbang PNBP mencapai Rp 43 triliun namun masih kalah jauh dari hasil cukai tembakau bisa mencapai 4 kali lipat yaitu sekitar Rp 150 triliun lebih sehingga Kementerian ESDM tidak boleh berbangga diri karena mineral ini bukan bahan baku terbarukan dan cadangannya terbatas.

Berdasarkan data realiasi PNBP dari Kementerian ESDM per September realisasi PNBP sektor pertambangan minerba sudah mencapai Rp 33,5 ‎triliun. Angka ini 104 persen, dari target yang ditetapkan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2018 sebesar Rp 32 triliun.

Baca juga: Ini 7 Lokasi Tambang Emas Raksasa, Dikelola Emiten Mana Saja?

Target APBN 2018 Rp 32 triliun, realisasi 104 persen dari target,” kata Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama (Biro KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi belum lama ini.

Prediksi Setoran PNBP Sektor Pertambangan

Prediksi setoran PNBP sektor pertambangan minerba bisa mencapai Rp 40 triliun pada akhir tahun ini, dengan melihat kondisi realisasi capaian PNBP sampai saat ini. Diusahakan Desember 2018 di atas Rp 40 triliun.

Capaian PNBP sektor minerba yang melebihi target disebabkan beberapa hal. Ini di antaranya pelaku usaha semakin tertib membayar kewajibannya, pengetatan pengawasan Kementerian ESDM dalam mengontrol pelaku usaha pertambangan minerba dan perbaikan sistem dengan menggunakan fasilitas E-PNBP.

Sementara untuk tahun 2019, pemerintah mencanangkan target PNBP minerba sebesar Rp 41,82 triliun.

Adapun rinciannya adalah PNBP sumber daya alam (SDA) minerba targetnya sebesar RP 24,12 triliun dan hasil penjualan hasil tambang sebesar Rp17,69 triliun. Untuk mengoptimalisasi penerimaan negara dari sektor tambang, Kementerian ESDM telah menyiapkan sejumlah strategi. Di antaranya dengan meminta pembayaran di muka dan mengurangi biaya yang sekiranya berpotensi memangkas penerimaan negara.

Sektor industri pertambangan masih merupakan andalan pemerintah sampai dengan 5 tahun mendatang dengan beberapa komoditas unggulan seperti batubara, nikel, emas, tembaga, perak, timah dan biji besi serta bauksit. Namun, komoditas unggulan tersebut belum diolah optimal untuk ditingkatkan nilai tambahnya.

UU Minerba

Hal ini terjadi karena pemerintah pada 2017 masih meloloskan ekspor dalam kondisi mentah dan menyimpang dari UU Minerba Nomor 4 tahun 2009. “Padahal batasnya diawal tahun 2014 semua mineral logam harus dimurnikan 100% di smelter dalam negeri. Dari sisi regulasi, pemerintah telah memberikan dukungan. Namun seringnya perubahan kebijakan dan peraturan telah menghambat proses hilirisasi mineral logam mentah dan batubara.

Apabila Pemerintah konsisten dengan UU Minerba maka negara akan menerima nilai tambah jauh lebih besar daripada saat ini. Proses hilirisasi bahan tambang harus menjadi prioritas utama dan pemerintah seharusnya konsisten dengan maksud tujuan UU Minerba, khususnya terhadap bahan tambang seperti batubara yang digunakan sebagai energi utama oleh PLN sebagai pembangkit listrik hampir mencapai 60% dari jenis pembangkit lainnya.

Peluang sektor ini tumbuh tahun depan masih ada karena kenaikan permintaan komoditi produk tambang yang meningkat, dan program pemerintah yang akan membangun infrastruktur dengan anggaran Rp 4400 triliun. Komoditas yang menarik adalah logam dasar, energi dan mineral jarang yang dipergunakan untuk teknologi maju serta energi terbarukan.