Pasokan Berlimpah, Harga Minyak Ambrol

Pada Senin (16/3/2020) harga minyak mentah kontrak berjangka ambrol lebih dari 1%. Brent jatuh nyaris 3% ke level US$ 32,86/barel.

Pasokan-Berlimpah-Harga-Minyak-Ambrol
Pasokan Berlimpah, Harga Minyak Ambrol

Sementara minyak mentah acuan AS yakni West Texas Intermediate (WTI) anjlok 1,48% ke level 31,26/barel.

Harga minyak mentah di awal perdagangan pekan ini kembali tertekan. Pandemi COVID-19 serta perang harga antara Arab Saudi dengan Rusia masih menjadi faktor yang membayangi harga si emas hitam.

Anjloknya harga minyak masih dibayangi oleh pandemi COVID-19 yang menjadi ancaman terbesar bagi permintaan minyak global. Parahnya lagi, ketika permintaan minyak turun, pasar malah berpotensi kebanjiran pasokan.

Potensi kelebihan pasokan ini terjadi karena Arab Saudi yang berniat untuk meningkatkan output minyaknya nanti pada April.

Langkah ini juga diikuti oleh Uni Emirat Arab. Tak sampai di situ saja, bahkan Arab berani mendiskon harga minyak mentah ekspornya (OSP) sebesar 10%.

Baca Juga: RI Terpapar Corona, Emiten Batu Bara Masih Pede

Arab geram karena pada pertemuan Organisasi Negara-negara Eksportir Minyak dan aliansinya (OPEC+) yang digelar awal Maret lalu di Vienna, gagal mencapai kesepakatan soal pemangkasan produksi minyak untuk menjaga stabilitas harga di pasar.

Arab Saudi sebagai pemimpin de facto OPEC mengusulkan pemangkasan produksi lebih banyak sebesar 1,5 juta barel per hari (bpd) hingga akhir tahun. Namun proposal ini ditolak oleh kroninya yakni Rusia.

Apa yang Terjadi Jika Minyak Jatuh ke US$ 20/barel

Rusia melihat pemangkasan produksi yang terus diperpanjang merupakan upaya yang sia-sia ketika produksi shale oil Amerika Serikat (AS) dibiarkan terus naik. Dibalik strategi perang harga ini, produksi shale oil AS juga turut menjadi target.

Arab Saudi dengan ongkos produksi minyak yang sangat murah (< US$ 10/barel) memang leluasa untuk mendiskon harga minyaknya.

Namun jika harga minyak jatuh ke level US$ 20/barel tentu hal ini akan menyakitkan produsen minyak yang lain termasuk Rusia mengingat ongkos produksi minyaknya tak serendah Arab. Hal ini jelas akan menggerus margin dari penjualan minyak.

Selain itu, secara mengejutkan tadi pagi bank sentral AS, The Fed memangkas suku bunga acuan (Federal Fund Rate/FFR) hingga 100 basis poin (bps) ke level 0-0,25% dan menjadi level terendah sejak 2015.

The Fed tak berhenti di situ saja, otoritas moneter Paman Sam ini juga memulai program Quantitative Easing (QE) dengan membeli aset-aset keuangan di pasar seperti obligasi pemerintah (US$ 500 miliar) dan efek beragun aset (EBA) senilai US$ 200 miliar. Artinya secara total The Fed akan siap membeli aset-aset keuangan dengan nilai sebesar US$ 700 miliar.

Namun hal ini tak mampu menenangkan pasar. Beberapa menit usai The Fed mengumumkan kebijakannnya Indeks Dow Jones futures malah jatuh 600 poin. COVID-19 nyatanya masih membuat pasar dilanda kepanikan.