Pajak Pertambangan Menurun Tahun Ini

Pajak Pertambangan
Sudut Energi - Pajak Pertambangan

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan bahwa penerimaan pajak tahun ini melambat bila dibandingkan tahun 2018. Kekurangan penerimaan pajak (shortfall) hingga akhir tahun bisa mencapai Rp140 triliun dari target. Hal ini akibat dampak dari perlambatan ekonomi global yang berpengaruh pada ekonomi dalam negeri. Saat perusahaan mengalami tekanan dan pendapatan menurun, pembayaran pajak mereka turun.

Berdasarkan data Kemenkeu, penerimaan pajak dari sektor usaha pengolahan masih mendominasi penerimaan pajak. Hingga akhir September 2019, sektor tersebut menyumbang pajak Rp245,6 triliun atau 29,2 persen dari total pajak.

Baca juga artikel terkait Pajak Pertambangan Menurun Tahun Ini:

  1. Kebijakan Umum CSR Petrosea
  2. IHSG Dibuka Naik Pagi Hari Ini Didukung Sektor Pertambangan
  3. Harga Batubara DMO, Menunggu Kepastian Untuk Pembangkit Listrik
  4. Tantangan Sektor Pertambangan di Era Revolusi Industri 4.0

Setelah pengolahan, sektor usaha perdagangan berada di posisi kedua dengan sumbangan pajak mencapai Rp176,2 triliun. Porsi penerimaan pajak dari sektor ini mencapai 21 persen dari total pajak.

Sri Mulyani mengungkapkan, penerimaan pajak di hampir semua sektor usaha, termasuk industri pengolahan dan perdagangan melambat, bahkan tumbuh negatif. Kendati demikian, ada satu sektor usaha yang pajaknya naik yaitu transportasi dan pergudangan.

Pajak dari sektor pertambangan mengalami penurunan yang sangat signifikan. Setelah melesat pada tahun lalu, penerimaan pajak dari sektor ini anjlok lebih dari 20 persen.