Nira Lontar Jeneponto, Emas Terpendam di Tanah Kering

Nira Lontar Jeneponto, Emas Terpendam di Tanah Kering

"<yoastmark

Kabupaten Jeneponto menyimpan berbagai banyak potensi energi terbarukan.

Setelah hembusan anginnya yang bisa memutar Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Tolo I Jeneponto, Sulawesi Selatan dengan kapasitas totalnya mencapai 72 MW.

Jeneponto juga menyimpan energi terbarukan sebagai potensi Bioetanol dari pohon nira lontar. Bioetanol adalah salah satu bahan dasar dalam Bahan Bakar Minyak (BBM).

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia (ESDM RI) sudah menyelesaikan studi kelayakan pengembangan Bioetanol dari nira lontar..

Tim Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Ketenagalistrikan, Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi.

Mereka menyimpulkan pohon lontar Jeneponto memenuhi syarat untuk jadi bahan baku bioetanol.

Sebenarnya, Kementerian ESDM sudah menentukan harga untuk setiap liter nira sebesar Rp. 550.

Kementrian juga sudah merancang industri pengolahan air nira menjadi bioetanol. Pabrik bioetanol terintegrasi dengan kebun lontar yang didedikasikan untuk sumber bahan baku pabrik.

Baca Juga: Kemilau Masa Depan Jurusan Teknologi Pertambangan

Kebutuhan penderes atau petani penyadap air nira sebanyak 1.176 orang, tenaga kerja pabrik 80 orang.

Gaji rata-rata petani sebesar Rp. 3 juta. Pabrik ini membutuhkan lahan pohon Lontar seluas 70 hektar.

Kementerian ESDM bersama Pertamina membutuhkan investor untuk membangun pabrik ini dengan nilai investasi kurang lebih Rp. 70 miliar.