Nikel Akan Jadi Primadona Baru Selain Batu Bara

Nikel Akan Jadi Primadona Baru Selain Batu Bara

Nikel Akan Jadi Primadona Baru Selain Batu Bara
Nikel Akan Jadi Primadona Baru Selain Batu Bara

Sebuah riset mengenai prospek cerah nikel dipublikasikan oleh bank investasi dan keuangan asal Amerika Serikat, Morgan Stanley.

Lembaga tersebut memprediksi pergerakan pada produk komoditas Indonesia, dari yang asalnya dikuasai oleh batu bara menjadi  nikel.

Ekspornya diperkirakan akan naik seiring dengan peningkatan investasi yang signifikan dari perusahaan Tiongkok. 

Prospek cerah nikel semakin diperkokoh dengan Indonesia yang digadang sebagai pemilik cadangan bijih nikel terbesar di dunia. Kualitasnya pun sesuai untuk bahan baku baterai mobil listrik (EV).

“Kami yakin batu bara tidak akan melanjutkan perannya sebagai pendorong utama pertumbuhan karena banyak negara ingin menurunkan emisi karbon dalam perekonomiannya,” tulis riset

Sejak 2000 hingga awal 2010, pertumbuhan ekonomi negara ini ditopang oleh batu bara. Kontribusinya terhadap produk domestik bruto di atas 10%.

Namun, angkanya terus menurun dan pada kuartal kedua tahun ini menjadi hanya 7% seiring dengan pelemahan konsumsinya.

Analis komoditas global Morgan Stanley Susan Bates memperkirakan permintaan jangka menengah untuk nikel justru akan bullish.

“Hal ini mengingat prospek permintaan stainless (baja tahan karat) dan kendaraan listrik yang kuat,” katanya.

Baca Juga: Saham Emiten Tambang Terbang Berkat Royalti

Prediksinya, permintaan stainless akan naik sebesar 2% per tahun hingga 2025 seiring intensitas penggunaannya di pasar negara berkembang.

Permintaan nikel untuk kendaraan listrik juga berperan penting dalam dua hingga tiga tahun ke depan.

Pertumbuhannya dapat mencapai 12% pada 2025 dan 23% pada 2030.