Minyak Anjlok Tertekan Kekhawatiran Permintaan

Minyak Anjlok Tertekan Kekhawatiran Permintaan

Minyak-Anjlok-Tertekan-Kekhawatiran-Penurunan-Permintaan
Minyak Anjlok Tertekan Kekhawatiran Permintaan

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Mei turun US$1,91 atau 6,45 persen ke posisi US$27,69 per barel.

Sementara, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei merosot 24 sen atau 1,19 persen menjadi US$19,87 per barel.

Harga minyak mentah dunia masih melanjutkan pelemahan pada perdagangan Rabu (15/4).

Penurunan permintaan akibat pandemi virus corona menjadi penyebab utama kejatuhan harga minyak.

Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan permintaan minyak global turun sebesar 9,3 juta barel per hari (bph) pada 2020.

Pada April, permintaan diprediksi anjlok 29 juta bph atau jauh lebih rendah dari tahun lalu.

“Dampak penguncian di 187 negara akibat virus corona dan wilayah telah membuat mobilitas hampir terhenti,” kata IEA.

Para ahli pun memperingatkan potensi banjir pasokan minyak mentah global meskipun ada penurunan produksi oleh OPEC+.

Diketahui, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya yang dipimpin oleh Rusia, yang dikenal sebagai OPEC+, baru saja menyepakati pemotongan produksi.

Pada Minggu (12/4), OPEC+ sepakat mengurangi produksi sebesar 9,7 juta barel per hari (bph) untuk Mei dan Juni setelah empat hari pembicaraan.

“Tidak ada perjanjian yang dapat memotong pasokan untuk mengimbangi penurunan permintaan jangka pendek seperti itu,” kata IEA.

Baca Juga: Asosiasi Tambang dan Migas Sulit Lakukan Merger dan Akuisisi

Harga minyak juga merosot setelah AS melaporkan persediaan mingguan menyentuh level terbesar dalam catatan.

Stok minyak mentah di AS melonjak 19 juta barel pekan lalu.

Sementara itu, pabrik penyulingan memangkas penggunaan kapasitas ke level terendah sejak 2008 karena anjloknya permintaan.