Minyak Anjlok 25 Persen Dampak Perang Harga Arab Saudi-Rusia

Harga minyak mentah mengalami penurunan harian terbesar sejak Perang Teluk 1991 pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), ketika produsen utama Arab Saudi dan Rusia memulai perang harga yang mengancam akan membanjiri pasokan pasar minyak global. Senin, (9/3/2020).

minyak-anjlok-25-dampak-perang-harga-arab-saudi-rusia

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Mei merosot US$10,91 atau 24,1%, menjadi menetap di US$34,36 per barel. Kontrak turun sebanyak 31% pada awal sesi menjadi US$31,02, tingkat terendah sejak 12 Februari 2016. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April jatuh US$10,15 atau 24,6%, menjadi ditutup di US$31,13 per barel. WTI sebelumnya anjlok 33% menjadi 27,34, juga yang terendah sejak 12 Februari 2016.

Moskow telah menolak untuk mendukung Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dalam melakukan pengurangan minyak yang lebih dalam untuk mengatasi penurunan permintaan secara substansial yang disebabkan oleh dampak virus corona terhadap perjalanan dan kegiatan ekonomi.

Harga saham-saham energi juga telah turun tajam, dan produsen serpih (shale) mulai memangkas pengeluaran untuk mengantisipasi pendapatan yang lebih rendah. Saham Exxon kehilangan lebih dari 12%, persentase kerugian satu hari terbesar sejak 15 Oktober 2008, puncak krisis keuangan. Saham Chevron jatuh lebih dari 15%, kerugian terbesar sejak kejatuhan pasar “Black Monday” Oktober 1987.

“Selama akhir pekan, setiap perusahaan mengurangi jumlah (kontrak) mereka dan pada dasarnya serpih masuk ke mode bertahan hidup dalam hal pengeluaran modal dan aktivitas,” kata Dan Yergin, wakil ketua IHS Markit.

Baca Juga : Corona Sebabkan Harga Minyak Anjlok

Arab Saudi memangkas harga ekspor pada akhir pekan untuk mendorong pabrik penyulingan membeli lebih banyak.

Sedangkan, Rusia, salah satu produsen top dunia bersama Arab Saudi dan Amerika Serikat, juga mengatakan mereka dapat meningkatkan produksi dan dapat mengatasi harga minyak yang rendah selama enam hingga 10 tahun. OPEC, Rusia dan produsen lain telah bekerja sama selama tiga tahun untuk menahan pasokan dalam kelompok yang dikenal sebagai OPEC+.