Migas Babak Belur, Efek Corona Merambat ke Batu Bara

Ekspor Triwulan I Menurun

Sedangkan untuk ekspor batu bara sampai dengan Triwulan I 2020 menurut data MODI adalah 61,18 juta ton dibanding dengan Triwula I 2019 yang angkanya 108,95 mengalami penurunan sekitar 78,08% di tahun ini.

“Sejauh ini demand masih relatif baik paling tidak untuk bulan April hingga Mei ini masih belum terjadi koreksi demand yang signifikan.

Namun jika Pandemi masih berkepanjangan maka dikhawatirkan akan berpengaruh signifikan terhadap demand batu bara,” jelasnya kepada CNBC Indonesia, Selasa (07/04/2020).

Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI Dileep Srivastava mengatakan meski harga batu bara US$ 66 per ton di bawah ekspektasi pasar sekitar US$ 70 per ton untuk tahun 2020 belum berdamak pada produksi batu bara.

“Tidak ada dampak, produksi batu bara tidak terpengaruh, ekspor dipantau dengan cermat,” ungkapnya saat dihubungi, Selasa, (07/04/2020).

Hal senada disampaikan oleh Direktur Utama PTBA, Arviyan Arifin. Dirinya menyebut sejauh ini anjloknya HBA belum berpengaruh pada produksi dan ekspor.

“Sejauh ini belum berdampak ya,” ucapnya singkat, Selasa, (07/04/2020). 

Seperti diketahui, HBA bulan April anjlok ke posisi US$ 65,77 per ton dampak dari virus corona (Covid-19) yang membuat negara-negara terdampak menurunkan permintaan. Dibandingkan bulan Maret, HBA bulan ini anjlok US$ 1,31 per ton dari posisi US$ 67,08 per ton.

HBA pada bulan Januari 2020 tercatat US$ 65,93 per ton turun dari Desember 2019 US$ 66,30 per ton.

HBA mengalami fluktuasi, naik di Februari US$ 66,89 per ton dan Maret US$ 67,08 per ton, dan kembali turun di bulan April 2020 ini.