Menyongsong Energi Berkelanjutan

Menyongsong Energi Berkelanjutan

Menyongsong Energi Berkelanjutan
Menyongsong Energi Berkelanjutan

Perbincangan soal masa depan energi baru dan terbarukan (EBT) mulai menjadi topik hangat di berbagai macam forum diskusi energi.

Tak hanya di kampus, pemerintahan, dan media, konsep energi bersih menjadi topik hangat dan menarik sebab dianggap menjadi fondasi bagi keberlangsungan pembangunan ekonomi berkelanjutan.

Pada tahun 2020, seiring merebaknya pandemi Covid-19, banyak korporasi global memasang target innovasi menciptakan green energy demi keberlangsungan energi masa depan.

Mereka menyadari bahwa keberlangsungan bisnis akan sangat dipengaruhi rantai pasok yang ramah lingkungan dan berkelanjutan termasuk di sektor energi.

Ketergantungan terhadap energi fosil sudah seharusnya dapat diatasi, dan kesadaran bahwa lingkungan yang bersih di masa mendatang adalah sebauh keharusan demi menjaga bumi tetap lestari.

Di dalam negeri, pemerintah menargetkan pada 2030 mendatang bisa menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 314 juta ton CO2.

Dari angka sebesar itu, sektor pembangkitan listrik EBT ditargetkan ditargetkan dapat berkontribusi menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 156,6 juta ton CO2.

Hal ini sesuai dengan Ratifikasi Paris Agreement pada saat Conference on Parties (COP) 22 di Morocco pada November 2016 lalu, di mana Indonesia berkomitmen mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 2030 sebesar 29%.

Baca Juga: Freeport Rogoh Rp 5 Triliun Untuk Tutup Tambang

Target tersebut terbilang berat mengingat pasokan energi primer Indonesia saat ini masih didominasi sumber-sumber yang berasal dari fosil.

Maklum, sumber energi primer untuk pembangkit listrik saat ini masih didominasi oleh batu bara, gas, dan minyak.