Luhut: Indonesia Produksi Baterai Lithium, Dolar AS di Bawah Rp10.000

Produksi Baterai Lithium
Luhut Indonesia Produksi Baterai Lithium, Dolar AS di Bawah Rp10.000

Pemerintah optimistis nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akan mampu berada di bawah level Rp10.000 jika Indonesia mampu meningkatkan nilai tambah produk tambang dengan memproduksi baterai litium pada 2023.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan saat ini pemerintah telah mulai memproduksi katoda sebagai bahan baku baterai litium di Morowali, Sulawesi Tengah. Saat ini juga sedang dijajaki investasi baterai litium dengan teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL).

Luhut menargetkan Indonesia sudah dapat memproduksi baterai litium pada 2023 yang akan mampu bersaing di pasar global. Terlebih lagi, Indonesia memiliki nikel sebagai bahan baku baterai yang dinilai cukup berkualitas dan dengan jumlah yang besar.

Menurutnya, ekspor produk penghiliran tambang akan lebih menguntungkan dan mampu menyelamatkan defisit neraca perdagangan daripada hanya mengekspor produk tambang mentah. Apalagi, yang dirugikan dari pelarangan ekspor produk tambang yang belum dimurnikan seperti nickel ore adalah negara tujuan ekspor, bukan Indonesia.

Baca juga: Siapkan Rp 560 M, Indika Masuk Tambang Emas di Sulawesi

Sebanyak 98% ekspor bijih nikel Indonesia dikirim ke China. Adapun pelarangan ekspor justru mendatangkan investasi ke Indonesia.

Luhut menjelaskan untuk menunjang investasi baterai litium dan bahan baku katoda, Indonesia tengah menyediakan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Kayan dengan kapasitas 1.350 MW yang rencananya memulai groundbreaking pada Agustus 2020.

Pabrik baterai lithium tersebut diharapkan mampu memanfaatkan energi hijau agar sejalan dengan upaya Indonesia beralih dari energi fosil. Penggunaan bahan bakar fosil sebagai energi pembangkitan dinilai tidak tepat pada pabrik yang akan mendorong pengembangan kendaraan listrik di Indonesia.