Mengenal Dewatering pada Kegiatan Pertambangan

Mengenal Dewatering pada Kegiatan Pertambangan

Mengenal Dewatering pada Kegiatan Pertambangan
Mengenal Dewatering pada Kegiatan Pertambangan

Metode pertambangan guna menciptakan efisiensi menjadi salah satu tantangan terbesar dalam produksi pertambangan.

Terutama dalam perkara penggalian, seringkali wilayah tambang yang sedang dilakukan penggalian, ternyata mengandung aliran air dalam tanah.

Apabila masalah ini tidak segera bisa teratasi, maka aliran air itu akan membuat kegiatan operasional terhenti, dan merugikan perusahaan.

Padahal, dalam kegiatan pertambangan, biaya yang dikeluarkan adalah berdasarkan pada setiap hitungan jam.

Bisa dibayangkan, jika kegiatan pertambangan itu terhenti dalam kurun waktu 1 hari saja, maka perusahaan pun bisa mengalami kebangkrutan.

Oleh karena kondisi area tambang yang merupakan jalur aliran air dalam tanah, harus terus dijaga agar tetap kering.

Metode ini lebih dikenal dengan proses dewatering (penyaliran air tambang).

Namun, sebelum proses dewatering dilakukan, diperlukan sejumlah persiapan untuk mengetahui lokasi tepatnya.

Diperlukan adanya assessment, penyesuaian sequence tambang, serta rencana kegiatan eksplorasi yang tak hanya baik, namun juga tepat sasaran.

Terlebih sebagian besar kegiatan pertambangan di Indonesia ini dilakukan dengan model open-pit atau pertambangan terbuka, sehingga proses dewatering ini menjadi sebuah hal yang mutlak.

Setidaknya diketahui ada tiga metode dewatering yang biasa dilakukan pada penambangan terbuka. Yakni dengan menggunakan sistem kolam terbuka, paritan dan juga sistem adit.

Sistem kolam terbuka dilakukan dengan cara membuang membuang air yang telah masuk ke area pertambangan.

Air yang sudah masuk itu dikumpulkan ke sebuah sumur, dan kemudian dipompa keluar. Jumlah pompa yang digunakan ini, tergantung dari kedalaman sumur yang dibuat.

Untuk sistem paritan, selama ini dikenal sebagai sistem yang paling mudah dilakukan.

Caranya yakni dengan membuat paritan atau saluran air di area pertambangan.

Nantinya air akan dialirkan ke sebuah kolam untuk dipompa, atau langsung dibuang ke tempat pembuangan dengan memanfaatkan gaya gravitasi.

Baca Juga: Airbus Kenalkan Konsep Pesawat Berenergi Hidrogen

Kemudian ada sistem adit, yang biasa digunakan pada pertambangan yang memiliki banyak jenjang.

Caranya yakni dengan membuat saluran horizontal yang dibuat dari area pertambangan yang terdampak, menembus shaft yang dibuat pada sisi bukit, sebagai jalur aliran pembuangan air.

Sayangnya, metode ini sangat mahal karena biaya untuk membuat jalur horizontal menembus shaft cukup tinggi.