Meneropong Saham Tambang Batu Bara 2020

Kinerja indeks saham sektor tambang masih tertekan. Dari awal tahun, indeks mining sudah terkoreksi hingga 6,79%.

Presiden Direktur Sucor Asset Management Jemmy Paul Wawointana mengatakan, saham sektor pertambangan batu bara secara valuasi memang sudah murah. Akan tetapi, saat ini saham sektor pertambangan masing tertekan dengan kondisi pasar.

Terlebih, sambungnya, banyak investor asing yang mulai mengutamakan untuk investasi di perusahaan yang bergerak dalam usaha yang ramah lingkungan.

Meneropong-Saham-Tambang-Batu-Bara-2020
Meneropong Saham Tambang Batu Bara 2020

“Ada juga prediksi pada 2027 biaya pembangkit listrik tenaga uap lebih mahal dari pada pembangkit listrik tenaga surya atau solar panel,” paparnya pada sesi-tanya jawab acara Outlook Saham-saham 2020, Jumat (21/2).

Meski begitu, Jemmy memaparkan, perusahaan-perusahaan batubara di Indonesia sudah mulai melakukan diversifikasi usaha. Mereka tak lagi mengandalkan penjualan batubara sebagai satu-satunya sumber pendapatan.

Baca Juga : Stok di Amerika Turun, Harga Minyak Bergerak Naik

Perusahaan yang bergerak di sektor pertambangan batubara sudah banyak yang merambah proyek pembangkit listrik.

Selain itu, untuk PT. Bukit Asam Tbk (PTBA) juga melakukan hilirisasi batubara dengan menggandeng Air Products & Chemicals, Inc, sebuah perusahaan yang berbasis di Amerika Serikat.

Juga PT. Adaro Energy Tbk (ADRO) yang terus melakukan diversifikasi usaha. Terlebih ADRO memiliki produksi batubara dengan kalori tinggi atawa coking coal yang dibutuhkan oleh industri baja.

Sekarang ini produksi coking coal ADRO sudah mencapai 30% dari total produksi ADRO. “Untuk yang punya produksi coking coal, mereka bisa memperbesar produksinya,” tambahnya.

Lagi-Lagi Corona

Di sisi lain, Analis OSO Sekuritas Sukarno Alatas menuturkan, prospek saham sektor pertambangan masih tertekan dan diprediksi belum bisa kembali pulih lantaran harga komoditas batubara masih berada dalam tren penurunan.

Terlebih, sambungnya, dampak wabah virus korona yang secara tak langsung turut mempengaruhi ekonomi China.

“Ketika ekonomi China terpengaruh, maka sektor pertambangan ikut kena imbasnya karena akan mempengaruhi permintaan pada sektor ini,” katanya pada Kontan, Minggu (23/2).

Sukarno menyarankan investor untuk melakukan strategi trading jangka pendek dengan menggunakan momentum teknikal.

Namun, untuk saat ini mayoritas harga saham dari sektor pertambangan akan terkoreksi lebih dulu lantaran sudah menguat dari beberapa hari yang lalu.