Menengok Proyeksi Produksi Emiten-Emiten Batubara di 2020

Asal tahu saja, rata-rata harga batubara acuan (HBA) dari Januari-Desember 2019 hanya mencapai US$ 77,89 per ton. Padahal, di tahun lalu rata-rata HBA mencapai 98,96 per ton.

Industri batubara masih diliputi ketidakpastian lantaran harga komoditas tersebut masih rentan tertekan. Kondisi ini mempengaruhi emiten-emiten batubara dalam menentukan produksinya di tahun depan.

PT Bumi Resources Tbk menjadi salah satu perusahaan batubara yang memastikan akan tetap meningkatkan produktivitasnya. Di tahun 2020, emiten berkode BUMI tersebut membidik pertumbuhan produksi batubara sebesar 5% lebih tinggi dibandingkan proyeksi produksi tahun ini sekitar 87 juta ton-90 juta ton.

Jika mengacu pada angka tadi, maka target produksi batubara BUMI di tahun dapat mencapai 91,35 juta ton-94,5 juta ton.

Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI Dileep Srivastava menyebut, BUMI selalu berusaha meningkatkan produksi batubaranya dari tahun ke tahun. Manajemen BUMI memang belum mengumumkan realisasi produksi batubara sepanjang tahun 2019 berjalan.

Namun, perusahaan dipastikan akan tetap mengejar pertumbuhan produksi 5% di tahun depan, terlepas dari berapapun realisasi produksi batubara di tahun ini.

Produksi batubara BUMI sendiri masih akan disumbangkan oleh tambang PT Kaltim Prima Coal dan PT Arutmin Indonesia. “Kami telah menginvestasikan banyak dana untuk mendorong produksi batubara hingga 100 juta ton di masa mendatang,” ungkap Dileep, Jumat (6/12).

Sementara itu, Direktur PT ABM Investama Tbk (ABMM) Adrian Erlangga menyampaikan, ABMM menargetkan produksi batubara sekitar 15 juta ton pada tahun 2020 nanti. Angka tersebut lebih tinggi dari target produksi batubara ABMM di tahun ini yaitu sekitar 11 juta ton.

Adapun sampai kuartal tiga lalu, perusahaan telah memproduksi 8,5 juta ton batubara atau naik 19,72% (yoy).

Manajemen ABMM sebenarnya sudah memiliki gambaran produksi batubara hingga lima tahun ke depan. Namun, Adrian belum bisa menjelaskan proyeksi produksi batubara perusahaan lebih rinci.

Produksi Batu Bara

Menurutnya, penting bagi perusahaan ini untuk menetapkan target produksi batubara secara jangka panjang. “Kalau target sudah ditetapkan jauh-jauh hari, kami bisa menyiapkan alat-alat tambang yang dibutuhkan lebih cepat,” ungkap dia, Jumat (8/12).

PT Indika Energy Tbk (INDY) untuk sementara belum menentukan target produksi batubara di tahun depan.

“Terkait target produksi saat ini masih dalam diskusi dan menunggu persetujuan Rencana Kerja Anggaran Biaya Tahunan (RKAB) 2020,” kata Head of Corporate Communication INDY Leonardus Herwindo, akhir pekan lalu.

Baca Juga : Harga Minyak Naik Terdorong Aksi OPEC Pangkas Produksi

Ia berpendapat, penetapan target pyoyeksi produksi batubara tergantung dari banyak faktor. Yang paling utama adalah kondisi pasar baik di dalam maupun luar negeri serta faktor teknis seperti kondisi tambang.

Sebagaimana diketahui, tahun ini INDY menargetkan produksi batubara sebesar 34 juta ton dari tambang PT Kideco Jaya Agung dan 1,5 juta ton dari tambang PT Multi Tambangjaya Utama (MUTU). Per Oktober lalu, produksi batubara dari Kideco telah mencapai 28,7 juta ton sementara MUTU telah memproduksi 1,3 juta ton batubara.

Setali tiga uang, Sekretaris Perusahaan PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) Sudin Sudirman bilang, kepastian target produksi batubara GEMS masih harus menunggu persetujuaan RKAB. Namun, pihaknya mengisyaratkan adanya kenaikan target produksi batubara di tahun depan.

Di tahun ini, GEMS menargetkan mampu memproduksi sekitar 30 juta ton batubara. Sementara realisasi produksi hingga September lalu sudah mencapai 20,7 juta ton.

Berapapun target produksi batubara nantinya, GEMS akan berupaya menjaga kepercayaan dengan para pelanggan sesuai kontrak yang berlaku. Perusahaan pun berusaha mempertahankan pangsa pasar utama yang berada di Indonesia, China, dan India. “Kami juga mencari pasar baru di Korea Selatan, Vietnam, Malaysia, dan lainnya,” tambah Sudin, Jumat lalu.

Target Produksi

Sebelumnya, PT Toba Bara Sejahtra Tbk (TOBA) memperkirakan produksi batubaranya di tahun depan berada di kisaran 4—5 juta ton. Jumlah ini tidak jauh berbeda dengan target produksi di tahun ini sekitar 5 juta ton. Adapun di kuartal tiga lalu, produksi batubara TOBA tercatat sebesar 3,3 juta ton atau turun 17,5% (yoy).

“Kalau harga batubaranya turun lagi, kami genjot produksi sampai 4 juta ton. Kalau membaik, kami naikkan sampai 5 juta ton,” kata Direktur TOBA Pandu Patria Sjahrir, Rabu (4/12) lalu.

Di samping kondisi harga batubara yang dianggap kurang stabil, alasan TOBA tidak pasang target produksi muluk-muluk dikarenakan perusahaan sedang menggarap sejumlah proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

Sumber : Kontan