Menengok Batu Bara Tanjung Enim

Menengok Batu Bara Tanjung Enim

Menengok-Batu-Bara-Tanjung-Enim
Menengok Batu Bara Tanjung Enim

Selain pempek kapal selam, kota Sumetara Selatan adalah provinsi kaya raya yang mengandung potensi alam yang sangat berlimpah.

Batubara adalah salah satu komoditas unggulan yang dimiliki oleh provinsi yang terkenal dengan jembatan Amperan itu.

Di Sumatera Selatan terdapat salah satu tambang tertua di Indonesia yang berada di Tanjung Enim.

Sejarah mencatat, tambang batubara yang secara administratif termasuk dalam wilayah Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Telah beroperasi sejak awal abad 20.

Dan sejak itu pula industri pertambangan Tanjung Enim turut melewati dinamika sejarah bangsa. Yang juga mempengaruhi corak pengelolaan industri ‘emas hitam’ itu.

Dari Era Kolonial

Produksi sumber daya batubara di Tanjung Enim berawal dari temuan pihak kolonial Belanda pada pertengahan abad 19.

Dalam sebuah dokumen pemerintah kolonial Belanda yang diterbitkan pada tahun 1859 disebutkan bahwa di sebuah daerah Karesidenan Basemah (atau Pagaralam kini) yang berada di tepian lintasan sungai Enim.

Ada masyarakat yang menggunakan bebatuan hitam sebagai perlengkapan rumah tangganya guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Bebatuan hitam ini bisa diperoleh dari dalam tanah dan tepian sungai Enim.

Laporan dokumen ini ditindak lanjuti dengan kegiatan eksplorasi yang dimulai pada tahun 1895.

Kegiatan eksplorasi ini dilakukan oleh sebuah kongsi dagang swasta lokal bernama Lematang Maatschappij.

Namun, setelah eksplorasi itu selesai, pada tahun 1919 Pemerintah Kolonial Belanda mengambil alih areal tambang dari kongsi swasta tersebut.

Baca Juga: Kenalkan Tanaman Penyerap Nikel

Maka dimulailah pengelolaan tambang batubara Tanjung Enim oleh pemerintah Belanda dengan metode penambangan terbuka (open pit mining) di wilayah operasi pertama, yang dinamakan Tambang Air Laya (TAL).

Kemudian, di tahun 1923 tambang Tanjung Enim beroperasi dengan metode penambangan bawah tanah (underground mining) hingga tahun 1940.