Melihat Fluktuasi Industri Tambang Batubara dan Dampaknya

Melihat Fluktuasi Industri Tambang Batubara dan Dampaknya bagi pekerja tambang di Indonesia. Indonesia adalah salah satu produsen dan eksportir batubara terbesar di dunia, bahkan melampaui produksi batubara thermal Australia.

Namun, empat tahun terakhir, harga minyak dunia turun dan ternyata ikut menyeret harga komoditas tambang batu bara di negri ini. Tiga tahun terakhir banyak industri pertambangan di Indonesia yang mulai berhenti melakukan rekrutmen dan banyak lulusan teknik pertambangan yang tidak terserap.

Baca juga artikel terkait Melihat Fluktuasi Industri Tambang Batubara dan Dampaknya: Lebih Dekat Melihat Institut Pertambangan Nemangkawi

Ada kekhawatirannya atas dampak turunnya komoditas tersebut dengan persaingan talent di industri pertambangan dan perminyakan, khususnya tambang batubara. Terjadi penurunan angka rekrutmen di industri tambang Indonesia dengan membandingkan kondisi penyerapan talent di perusahaan tambang milik luar negeri.

Sekarang perusahaan minyak dan tambang luar negeri sudah mulai melakukan rekrutmen bahkan menyasar talent-talent mahasiswa sejak tingkat dua. Schlumberger dan Halliburton adalah beberapa perusahaan yang tetap konsisten melakukan rekrutmen meskipun oil and gas di dunia harganya belum stabil. Lalu, bagaimana dengan perusahaan BUMN dan industri tambang dalam negeri kita?

PT Bukit Asam, mengatakan bahwa PT Bukit Asam (PTBA) secara kontinu tetap melakukan rekrutmen setiap tahunnya meskipun penyerapannya pernah menurun. Dengan didukung lebih dari dua puluh empat anak perusahaan, PTBA menurutnya tetap menjadi perusahaan tambang batubara kelas dunia dengan potensi produksi pertambangan hingga 20-30 tahun kedepan.

PT Bukit Asam optimis mampu menyerap talent profesional lulusan ITB, mengingat sekarang banyak proyek baru berkat himbauan pemerintah untuk mulai bertransformasi ke energi.