Lifting Minyak RI Mustahil Capai Target

Lifting Minyak RI Mustahil Capai Target

Lifting-Minyak-RI-Mustahil-Capai-Target
Lifting Minyak RI Mustahil Capai Target

Harga rata-rata minyak mentah Indonesia (ICP) anjlok akibat pandemi corona (Covid-19).

Kondisi ini membuat industri migas di hulu semakin tidak menarik karena kurang ekonomis. Lalu bagaimana damak ke target lifting minyak?

Deputi Operasi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Julius Wiratno mengatakan di tengah situasi sulit dengan harga minyak yang rendah dan Covid-19 maka akan berdampak pada kegiatan hulu migas.

Menaggapi situasi ini langkah antisipasi yang diambil yakni dengan optimasi program kerja.

“Di tengah situasi sulit karena low oil price dan Covid-19, tentu kegiatan hulu migas akan terkena dampak, dan akan disikapi dengan melakukan optimasi program kerja,” ungkapnya.

Lebih lanjut dirinya mengatakan, sampai saat ini SKK Migas masih terus mencari skenario-skenario yang masuk akal dan bisa dieksekusi dengan dengan harga minyak tertentu.

“Masih running beberapa skenario-skenario yang reasonable dan executable dengan asumsi harga crude tertentu,” imbuhnya.

Rendahnya harga minyak, imbuhnya, tentu akan berdampak juga pada lifting. Dirinya memperkirakan lifting akan lebih rendah 5% dari target.

Seperti diketahui target lifting minyak tahun ini sebesar 755 ribu barel per hari.

Artinya jika lifting hanya 95% maka capaiannya sekitar 717,2 ribu barel per hari.

Baca Juga: Migas Babak Belur, Efek Corona Merambat ke Batu Bara

“Mostlikely akan ada dampak juga terhadap lifting. Perkiraan saya sekitar kurang lebih 5% (berkurangnya),” terang Julius.

Sebelumnya, Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengatakan anjloknya harga rata-rata minyak mentah Indonesia (ICP) bulan Maret berdampak pada kontraktor migas yang ramai-ramai merevisi target produksi.

“Di bawah ICP US$ 35, mulai banyak yang mereschedule program pengembangan,” ungkapnya.

Sebagai informasi, harga rata-rata minyak mentah Indonesia (ICP) bulan Maret terjun bebas 39,5% menjadi US$ 34,23 per barel. Atau anjlok US$ 22,38 per barel dibandingkan bulan sebelumnya US$ 56,61 per barel.