Larangan Ekspor Bijih Nikel

Adapun pada tahun ini emiten yang memiliki lini bisnis pada komoditas nikel yang akan paling diuntungkan. Pasalnya, larangan ekspor nikel yang diterapkan pada tahun ini dinilai dapat mendongkrak harga komoditas tersebut di pasaran.

Selain itu, permintaan komoditas nikel diproyeksikan bakal meningkat yang didorong oleh untuk kebutuhan baterai seiring dengan pertumbuhan kendaraan listrik yang exponential.

Tidak hanya itu, pemangkasan royalti yang dilakukan pemerintah dinilai menjadi sentimen positif untuk kinerja emiten-emiten tambang logam.

Sebelumnya, perubahan tarif royalti untuk mineral dan batu bara telah ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo pada 20 November 2019 dan diundangkan pada 25 November 2019. Aturan tersebut berlaku secara efektif 30 hari kerja setelah diundangkan atau paling tidak pada Januari 2020.

Aturan tersebut bakal tertuang dalam PP No.81/2019 yang dalam beleid tersebut mencabut tarif yang ditetapkan pada PP No. 9/2012. Beleid tersebut menetapkan royalti feronikel mulai tahun depan sebesar 2% dari harga jual dibandingkan dengan sebelumnya sebesar 4%.

Pemotongan royalti pemerintah terhadap produk turunan nikel seperti ferronickel cukup membantu produsen untuk meningkatkan marginnya.

Untuk itu, emiten harus memaksimalkan peluang tersebut dengan terus menggenjot program penghiliran komoditas nikel di Tanah Air.

Baca Juga : Jokowi Jengkel: Batu Bara Melimpah, Kok Kita Impor LPG?

ANTM dan INCO

Berdasarkan catatan Bisnis, pada saat ini terdapat 2 emiten yang tengah fokus untuk melakukan percepatan proyek penghiliran komoditas nikel yakni PT Aneka Tambang Tbk., dan PT Vale Indonesia Tbk. 

Dalam riset yang dikeluarkan Sinarmas Sekuritas, untuk sektor tambang logam disebutkan bahwa dalam kurun beberapa waktu terakhir menjelang tutup tahun, harga nikel sempat anjlok menuju US13.000 per ton dari harga tertingginya pada tahun ini US$18.050 per ton.

Hal tersebut disebabkan oleh permintaan yang lebih rendah dari sektor stainless steel, pada saat yang sama, harga stainless steel tercatat melemah 11,4% sepanjang tahun 2019.

Sementara itu, turunnya permintaan nikel juga disebabkan oleh menurunnya permintaan dari sektor kendaraan listrik. Pasalnya, melemahnya permintaan tersebut disebabkan oleh keputusan pemerintah China yang akan mencabut subsidinya pada Juni 2019.

Di sisi lain, larangan ekspor nikel dinilai dapat mendongkrak permintaan komoditas tersebut ke depannya. Hal itu menjadi sentiment yang baik untuk pergerakan harga nikel di pasar global.

Untuk sektor ini, Sinarmas Sekuritas menurunkan peringkat untuk sektor ini menjadi netral, meskipun memiliki potensi kenaikan harga. Adapun peringkat tersebut diberikan dengan asumsi harga nikel dalam jangka panjang yakni US$16.000 per ton.

Untuk di sektor tambang logam kami masih merekomendasikan ANTM dan INCO.

Sumber : Market Bisnis