Lampu Kuning Produksi Nikel untuk Baterai Kendaraan Listrik

Lampu Kuning Produksi Nikel untuk Baterai Kendaraan Listrik

Lampu-Kuning-Produksi-Nikel-untuk-Baterai-Kendaraan-Listrik
Lampu Kuning Produksi Nikel untuk Baterai Kendaraan Listrik

Film seri Blue Planet yang dinarasikan naturalis David Attenborough sukses menggambarkan kehidupan spesies laut dalam.

Film itu menuturkan bahwa kemampuan laut mendaur material yang dilepaskan manusia ke dalam laut bukannya tak terbatas.

Pengaruh industri bagi kehidupan laut kian berjejak luas membuat spesies dan produktivitas laut dalam kian berkurang. 

Laut dalam tak sepenuhnya terpisah bagi kehidupan laut permukaan, karena fenomena arus naik ke permukaan, upwelling, membawa nutrisi dari bagian bawah ke permukaan laut.

Integritas sistem kehidupan laut terancam rusak bila praktek pembuangan limbah pengolahan bijih tambang ke laut terus berlanjut. 

Sayangnya, kini industri pengolahan nikel baterai kendaraan listrik mendesak diperbolehkannya pembuangan limbah pengolahan bijih ke laut.

Kendaraan bermotor adalah sumber polusi udara utama di perkotaan. Mengatasi persoalan ini, industri dan pemerintah beberapa negara Eropa dan Tiongkok tawarkan peralihan ke kendaraan listrik.

Pemerintah Indonesia pun merencanakan agar ibu kota baru menggunakan kendaraan listrik. 

Kendaraan listrik punya satu komponen penting, yakni baterai yang berdaya simpan tinggi akan energi listrik untuk mencapai kemampuan jarak tempuh kompetitif dibandingkan kendaraan bahan bakar fosil.

Nikel salah satu bahan baku penting, bahkan volumenya berpersentase terbanyak dalam tiap unit baterai kendaraan listrik. Nikel juga lebih murah dibandingkan cobalt—yang dihasilkan Kongo sebagai produsen utama saat ini. 

Baterai kendaraan listrik kian banyak digunakan jenis NMC 811, singkatan Nickel, Manganese, Cobalt dengan perbandingan berat 8:1:1. Persentase nikel adalah yang terbanyak.

Baca Juga : India Pindah ke Lain Hati, Harga Batu Bara Anjlok Lagi

Sebelumnya bijih nikel kadar rendah (limonite) dibiarkan tertinggal di daerah tambang tak direhabilitasi. Sebagian tererosi ke daerah pantai membuat sedimentasi parah kawasan pesisir, hancurkan perikanan lokal seperti di Tambea, Sulawesi Tenggara.

Kini, teknologi proses HPAL (High Pressure Acid Leach) dinilai bisa diterapkan secara ekonomis mengolah nikel kadar rendah menjadi baterai kendaraan listrik.