Komoditas Tambang Indonesia Masih Lesu

Komoditas tambang Indonesia masih lesu ditengah harga komoditas makin membaik terutama didorong oleh Crude Palm Oil (CPO), karet, dan nikel. Walaupun membaik indeks harga komoditas ekspor Indonesia tercatat negatif di 2019 dan angkanya sedikit lebih dalam ketimbang di 2018.

Indeks harga komoditas ekspor Indonesia di 2019 tercatat negatif 3,0 dibandingkan pada 2018 lalu yang masih negatif di 2,8.

Kondisi 2019, harga CPO meningkat seiring dengan keterbatasan pasokan CPO, di tengah permintaan CPO yang masih terjaga.

Data Bank Indonesia, Selasa (4/2/2020) terungkap, produksi CPO terganggu akibat kekeringan yang berkepanjangan selama 2019 dan penambahan lahan produksi yang terbatas. Perbaikan harga CPO juga didukung oleh permintaan India dan China yang tetap tinggi.

Komoditas-Tambang-Indonesia-Masih-Lesu
Komoditas Tambang Indonesia Masih Lesu

“Ke depan, permintaan CPO dari kedua negara tetap baik, didorong oleh penurunan pajak impor CPO oleh India dan penghapusan tarif impor CPO oleh Tiongkok,” tulis BI dalam laporan harga komoditas RI.

Baca Juga : Harga Batu Bara Gasifikasi Mentok US$21 per Ton

Selain itu, kenaikan harga CPO dunia juga dipengaruhi oleh penggunaan biodiesel khususnya di Malaysia. Harga karet mulai meningkat seiring dengan pemulihan penjualan mobil.

Sementara itu, peningkatan harga nikel disebabkan oleh ganguan produksi di Brazil dan pelarangan impor biji nikel.

Di tabel di bawah ini, terlihat kejatuhan terdalam ada di sektor aluminium dan kopi. Sementara batu bara juga masih berdarah-darah karena indeks harga yang negatif.

Sementara, BI juga melaporkan harga minyak cenderung meningkat karena kenaikan permintaan dan eskalasi geopolitik di Timur Tengah.

Peningkatan permintaan minyak didorong oleh perbaikan ekonomi global dan sentimen pasar yang dipicu oleh konflik AS-Iran.

Sementara itu, dari sisi pasokan terdapat potensi penurunan seiring dengan komitmen pemotongan produksi OPEC+ dan eskalasi geopolitik AS-Iran.

“Dari sisi harga, risiko geopolitik dapat meningkatkan volatilitas harga minyak, namun dampak ke pertumbuhan ekonomi global diprakirakan terbatas. Ke depan, kondisi geopolitik AS-Iran tetap dicermati,” tutup BI.