Komisi VII Pelajari Anjloknya Laba Di Sektor Tambang

Komisi VII pelajari anjloknya laba di sektor tambang yang tergabung dalam Mining Industry Indonesia (Mind Id) yang tidak sebanding dengan asset yang dimilikinya.

Performa perusahaan tambang saat ini belum optimal, bahkan menurun di tahun 2019 dibanding sebelumnya.

Perusahaan pertambangan yang mengalami kerugian akan dikaji dan teliti lebih jauh. Apa penyebab sesungguhnya. Hal ini penting karena ini amanat UUD 1945.

Pasal 33 Ayat 2 di mana “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”.

Kita tidak boleh membiarkan kerugian yang begitu besar terus terjadi. Kerugian itu harus dicegah, atau dipakai untuk kesejahteraan masyarakat.

Komisi-VII-Pelajari-Anjloknya-Laba-Di-Sektor-Tambang
Komisi VII Pelajari Anjloknya Laba Di Sektor Tambang

Potensi kekayaan bumi, air dan alam sangat melimpah. Karenanya, performa perusahaan tambang harus ditingkatkan menjadi BUMN andalan di Indonesia, yang dapat memberikan manfaat untuk masyarakat dan negara.

Diketahui, Mind ID adalah holding industri pertambangan yang terdiri dari PT Antam Tbk, PT Bukit Asam Tbk, PT Freeport Indonesia, PT Indonesia Asahan Alumunium (Persero), dan PT Timah Tbk.

Tahun ini, Mind ID selaku holding industri pertambangan Indonesia akan mengeluarkan belanja modal, atau capital expenditure (capex) sebesar Rp24-25 triliun. Modal ini akan digunakan untuk menggarap enam proyek besar.

6 Proyek Besar

Pertama, Smelter Grade Alumina Refinery di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat untuk mengolah bauksit menjadi alumina yang akan dikerjakan oleh PT Inalum (Persero) dan PT Antam Tbk.

Kedua, Peningkatan Teknologi Pot Inalum di Kuala Tanjung, Sumatera Utara yang akan dikerjakan oleh PT Inalum (Persero).

Baca Juga : Trump Kirim Serangan Baru ke Iran

Ketiga, PLTU Mulut Tambang di Tanjung Enim, Sumatera Selatan yang akan dikerjakan oleh PT Bukit Asam Tbk. Keempat Pabrik Ferronickel di Tanjung Buli, Halmahera Timur yang akan dikerjakan oleh PT Antam Tbk.

Kelima, Smelter Tin Ausmelt di Muntok, Bangka Barat yang akan dikerjakan oleh PT Timah Tbk. Smelter ini akan mengolah bijih timah menjadi timah kasar (crude tin). Investasi dari proyek ini mencapai US$ 80 juta dengan kapasitas 40.000 ton crude tin.

Terakhir, Smelter Tembaga PTFI di Gresik, Jawa Timur yang dikerjakan oleh PT Freeport Indonesia. Melalui smelter PTFI konsentrat tembaga akan diolah menjadi katoda tembaga

Nilai investasi proyek ini mencapai US$ 3.000 juta dengan kapasitas 2.000 Ktpa Katoda Tembaga. Estimasi masa konstruksi 33 bulan sehingga ditargetkan operasi tahun 2022.