Ketergantungan Impor Migas Harus Segera Diatasi

Ketergantungan terhadap energi impor masih sangat tinggi. Akibatnya neraca dagang Indonesia terus mengalami defisit lantaran ketergantungan impor migas yang besar.

Anggota DPR Fraksi Golkar, Ridwan Hisyam menyatakan “Harus ada paradigma yang berbeda untuk lima tahun ke depan jika kita ingin memangkas ketergantungan pada energi impor. Presiden Jokowi dan menteri ESDM harus mengubah arah kebijakan agar gas bumi menjadi prioritas,”.Terobosan pemerintah dengan menghadirkan B10, B20, B30 hingga rencananya sampai B100 merupakan langkah strategis dan positif. Namun akan lebih baik lagi jika potensi energi yang sudah ada dan terbukti lebih efisien dioptimalkan pemanfaatannya.

Baca juga artikel terkait Ketergantungan Impor Migas Harus Segera Diatasi: Indonesia Setop Ekspor Nikel, Harga Nikel Dunia Naik

Pemanfaatan gam bumi dapat menger industri di dalam negeri sehingga bisa menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan nilai produk dalam negeri. Optimalisasi gas domestik dapat dilakukan jika pembangunan infrastruktur dapat dikerjakan secara lebih masif. sumber gas bumi ke depan akan lebih banyak berada di Indonesia Timur seiring pengembangan Blok Tangguh Train III dan proses produksi Blok Masela. Nilai investasi dalam pengembangan blok Masela sendiri mencapai sekitar USD 20 miliar atau senilai Rp 280 triliun (kurs Rp 14.000/US$) dan menggunakan cost recovery yang berarti dibiayai APBN.

Potensi gas bumi jika tidak didukung infrastruktur gas, potensi energi di dalam negeri ini hanya akan di ekspor dan kita akan menggunakan energi impor yang lebih mahal untuk memenuhi kebutuhan energi di dalam negeri. Lebih jauh Ridwan juga mengingatkan BUMN energi untuk terus memperkuat kemampuan sumber daya manusia. Pasalnya ditengah kebutuhan energi domestik yang semakin besar, penguasaan teknologi untuk memperluas pemanfaatan gas bumi sangat dibutuhkan.