Kendala Membayangi Produsen Batu Bara Siap untuk Penuhi DMO

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara (APBI). Hendra Sinadia menyatakan perusahaan batu bara siap untuk penuhi target kuota DMO yang telah ditentukan yakni 155 juta ton karena produksi batu bara yang berlimpah.

Pelaku usaha tambang batu bara siap untuk penuhi kebutuhan batu bara dalam negeri atau domestic market obligation (DMO) pada tahun ini yang mencapai 155 juta ton. 

Namun, dia menyatakan masih ada sejumlah kendala bagi perusahaan untuk memasok ke konsumen dalam negeri. 

“Untuk DMO masih ada masalah terkait dengan transfer kuota, kualitas batu bara, dan faktor logistik. Untuk logistik, pemerintah menyusun sistem zonasi PLN, ini perlu dibenahi. Kami ingin permasalahan terkait DMO ada solusinya,” ujarnya kepada Bisnis, baru-baru ini. 

Ketua Indonesian Mining & Energi Forum (IMEF). Singgih Widagdo menuturkan besaran kuota DMO yang sebanyak 155 juta ton. Jumlah tersebut sangat wajar mengingat ada kenaikan kebutuhan batu bara nasional. 

“Namun serapan DMO harus terus dievaluasi, mengingat terkait dengan shipment schedule dan manajemen coal stockpile pemasok,” ucapnya.

Baca Juga : Strategi Emiten Batu Bara untuk Menjaga Keuntungan

Sementara itu, Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Rizal Kasli tak memungkiri tidak semua batu bara yang dihasilkan oleh Indonesia cocok dengan spesifikasi yang dibutuhkan PT PLN (Persero) untuk PLTU.

Batu bara kalori rendah di bawah 3400 kkal/kg (GAR) tidak bisa diterima oleh PLN dan kalori yang tinggi di atas 6500 kkal/kg (GAR) juga tidak bisa diterima oleh PLTU. 

“Ini mau tidak mau batu bara dengan jenis ini akan diekspor ke luar negeri karena tidak ada pasarnya dalam negeri,” ujarnya. 

Menurut Rizal. Pemerintah harus memetakan dengan jelas mana PLTU dan industri yang telah memiliki kontrak pengadaan batu bara jangka panjang dengan produsen.