Kembangkan Teknologi Ramah Lingkungan

Kembangkan Teknologi Ramah Lingkungan

Kembangkan Teknologi Ramah Lingkungan
Kembangkan Teknologi Ramah Lingkungan

Pemerintah mendorong produsen batu bara untuk memperkuat teknologi pertambangan ramah lingkungan.

Hal ini untuk mengimbangi gerakan global yang mulai meninggalkan sumber bahan bakar itu demi menekan emisi karbon.

Sejauh ini belum ada upaya sistematis pelaku usaha tambang mengurangi dampak yang ditimbulkan industri itu terhadap lingkungan. 

Jangan sampai potensi batu bara yang masih melimpah di Indonesia tidak dapat termanfaatkan secara optimal.

Indonesia perlu memperjuangkan (teknologi ramah lingkungan) itu demi kepentingan nasional.

Industri batu bara sedang terdesak transisi energi dari fosil ke energi terbarukan. Sering kali isu ini tidak menemukan titik temu ketika dihubungkan ke aspek ekonomi.

Pasalnya, batu bara merupakan bahan bakar yang paling murah dibandingkan sumber energi lain. 

Persoalan harga dan keekonomian masih menjadi penghambat proses transisi energi di Indonesia.

Batu bara seperti konsumsi bahan bakar minyak (BBM) jenis Premium.

Konsumen masih sulit meninggalkannya karena harganya yang murah. 

Kalau mau hijrah dari batu bara, pemerintah harus memberikan subsidi karena tumpuan penyediaan listrik dengan biaya murah saat ini adalah batu bara.

Di sisi lain, kebutuhan batu bara Indonesia masih sangat besar. Pembangkit listrik dari program 10 ribu megawatt (MW) sebagian besar memakai komoditas itu.

Baca Juga: Harga Batu Bara Sentuh US$ 60

Lalu, program 35 ribu megawatt yang sedang dalam proses pembangunan, kondisinya pun serupa. 

Sebagian besar merupakan pembangkit listrik tenaga uap alias PLTU. Pemerintah tampaknya juga belum dapat melepas bahan bakar itu.