Kemampuan Membayar Utang & Tingkat Kolektibilitas Piutang Petrosea

mengelola likuiditas petrosea
Kemampuan Membayar Utang & Tingkat Kolektibilitas Piutang Petrosea

Kemampuan membayar piutang tercermin dari kemampuan Petrosea dalam mengelola likuiditas. Strategi Petrosea dalam mengelola risiko likuiditas adalah dengan menjaga kecukupan simpanan. Fasilitas bank dan fasilitas simpan pinjam dengan terus menerus memonitor perkiraan arus kas aktual dan menyesuaikan profil jatuh tempo aset dan liabilitas keuangan. Hal itu juga dilakukan untuk menjaga kecukupan dana guna membiayai kebutuhan modal kerja, dimana dana tersebut ditempatkan dalam bentuk kas dan setara kas.

Pada tahun 2017, liabilitas keuangan Petrosea meliputi utang usaha dan lainnya. Biaya yang masih harus dibayar, hutang deviden, utang bank, liabilitas sewa pembiayaan dan pinjaman lainnya yang pada awalnya diukur pada nilai wajar. Setelah dikurangi biaya transaksi dan selanjutnya diukur pada biaya perolehan diamortisasi menggunakan metode suku bunga efektif.

Baca Juga : Pemerintah Diminta Gencarkan Informasi Energi Baru Terbarukan

Posisi utang usaha per 31 Desember 2017 mengalami kenaikan sebesar 73,21% menjadi US$ 64,97 juta. Kenaikan ini sejalan dengan meningkatnya volume usaha Petrosea. Utang usaha termasuk utang kepada pemasok dalam negeri sebesar US$ 64,31 juta dan kepada pemasok luar negeri sebesar US$ 810 ribu.

Utang kepada pihak Bank mengalami penurunan sebesar 34,77% dari US$ 16,25 juta menjadi US$ 10,60 juta. Utang bank meliputi utang kepada Citibank N.A. Indonesia berupa saldo pinjaman modal kerja untuk mendukung operasional dan pengembangan usaha yang dilakukan Perusahaan.

Liabilitas Sewa 

Pembiayaan merupakan utang sewa pembiayaan Perusahaan untuk membeli alat berat operasi guna mendukung bisnis Petrosea. Rincian utang sewa pembiayaan diantaranya kepada PT Mistubishi UFJ Lease and Finance Indonesia sebesar US$ 15,70 juta,.PT Orix Indonesia Finance sebesar US$ 1,89 juta dan PT Catepillar Finance Indonesia sebesar US$ 0,34 juta.

Kualitas tagihan pada tahun 2017 dapat dijaga dengan baik dimana mayoritas berada dalam kategori lancar. Arus kas dikelola secara konservatif sehingga semua liabilitas dapat diselesaikan dengan baik. Pada tahun 2017 tercatat bahwa rasio pinjaman bersih terhadap modal mencapai 50% atau masih dalam batas kemampuan Perusahaan mengingat besarnya potensi pendapatan atas pengembangan usaha yang dilakukan Petrosea pada lini bisnis kontrak pertambangan dan E&C, maupun jasa pendukung kegiatan minyak & gas bumi.