Kebutuhan Batu Bara Ditargetkan Naik 35,5%

Kebutuhan Batu Bara Ditargetkan Naik 35,5%

Kebutuhan Batu Bara Domestik Ditargetkan Naik 35,5% pada 2024

Penyerapan batu bara nasional diproyeksikan akan tumbuh mencapai 187 juta ton, naik 35,5%.

Angka tersebut lebih banyak jika dibandingkan dengan realisasi penyerapan pada 2019 yang sebesar 138 juta ton.

Berarti Kebutuhan Batu Bara Ditargetkan Naik 35,5% pada 2024.

Pemerintah menyampaikan hal tersebut melalui Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Ridwan Djamaluddin saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR RI, Kamis (27/08/2020).

Ridwan Djamaluddin menuturkan proyeksi penyerapan batu bara untuk domestik (Domestic Market Obligation/ DMO) dihitung berdasarkan peningkatan kebutuhan batu bara di sejumlah sektor yang mengkonsumsi energi demi pemenuhan kebutuhan seperti, pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), industri semen, dan smelter.

Hal tersebut pun ditanggapi oleh Asosiasi Pertambangan Mineral dan Batu Bara Indonesia (APBI).

Menurut Direktur Eksekutif APBI Hendra Sinadia proyeksi sebesar 187 juta ton pada 2024 itu lebih tepat bila diasumsikan ada pertumbuhan permintaan per tahun rata-rata sekitar 10% dari proyeksi yang diestimasi APBI sekitar 120-125 juta ton pada tahun ini.

Baca Juga: Harga Batu Bara Feeling Good

Dia mengakui, proyeksi konsumsi batu bara domestik sebesar 120-125 juta ton ini lebih rendah dari target yang ditetapkan pemerintah sebesar 155 juta ton karena turunnya permintaan akibat terdampak pandemi Covid-19.

“Jika menggunakan asumsi 125 juta ton dan asumsi pertumbuhan permintaan per tahun hanya naik rata-rata 10%, maka pada 2024 ya jumlahnya sekitar itu (185-187 juta ton),” jelasnya.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, konsumsi batu bara domestik pada 2021 diperkirakan naik menjadi sebesar 168 juta ton.

Lalu pada 2022 sebesar 177 juta ton, pada 2023 sebesar 184 juta ton, dan pada 2024 sebesar 187 juta ton.

Menurutnya, bila saat ini tidak ada pandemi, maka kemungkinan besar konsumsi batu bara pada 2024 di atas 200 juta ton.

“Poinnya adalah awal mula proyeksi di 2020 itu koreksi setelah Covid-19. Kalau tidak ada Covid-19 di tahun ini sebut saja sesuai target pemerintah 155 juta pada 2020, tentu saja pada 2024 nanti jumlahnya (konsumsi batu bara domestik) bisa lebih dari 200 juta, kira-kira seperti itu,” tuturnya.

Baca Juga: Ekspor Batu Bara Meningkat di Kuartal II

Dari target konsumsi domestik sebesar 155 juta ton pada 2020 ini, 70% dialokasikan untuk pembangkit listrik yakni mencapai 109 juta ton.

Pada 2021 batu bara untuk listrik ini ditargetkan naik menjadi 121 juta ton, lalu 129 juta ton pada 2022, 135 juta ton pada 2023, dan 137 juta ton pada 2024.

Kepala Divisi Batubara PLN Harlen sempat menyebutkan konsumsi batu bara untuk pembangkit listrik, baik milik PLN maupun pengembang listrik swasta (IPP) pada tahun ini diperkirakan lebih rendah 6% dibandingkan penyerapan tahun lalu yang sebesar 97 juta ton.

Ini berarti serapan batu bara PLN juga akan lebih rendah dari target awal yang ditetapkan pemerintah 109 juta ton.

Dia pun mengatakan konsumsi batubara untuk pembangkit listrik hingga Juli mencapai 59 juta ton, naik sekitar 9 juta ton dari realisasi hingga semester I yang mencapai 50,2 juta ton.

Adapun realisasi penjualan batu bara untuk kebutuhan domestik hingga Juli 2020 mencapai 73 juta ton atau sekitar 47% dari target penyerapan domestik tahun ini sebesar 155 juta ton.