Jepang Katrol Harga Batu Bara

Jepang Katrol Harga Batu Bara

Jepang Katrol Harga Batu Bara
Jepang Katrol Harga Batu Bara

Perdagangan komoditas batu bara mendapat angin segar dari negeri Sakura Jepang.

Produksi baja mentah (crude steel) Jepang Agustus diperkirakan bakal naik dibanding dengan bulan-bulan sebelumnya.

Jika melihat data Juli, produksi baja kasar Jepang sudah mulai rebound.

Argus Media melaporkan produksi baja kasar bulan ketujuh tahun ini mencapai 6 juta ton atau naik 8% dibanding bulan Juni.

Pabrik baja Jepang memproyeksikan sedikit pemulihan pada produksi baja Juli-September, didorong oleh kebangkitan industri otomotif domestik negara tersebut.

Kondisi tersembut menjadi sentimen positif bagi harga perdagangan batu bara.

Harga batu bara termal acuan Newcastle kembali ditutup menguat pada perdagangan kemarin dan menyentuh level tertinggi dalam dua bulan terakhir.

Pada perdagangan Rabu (16/9/2020), harga batu bara untuk kontrak yang aktif ditransaksikan ditutup dengan apresiasi cukup signifikan sebesar 3,5% ke US$ 56/ton.

Kini harga batu bara berada di level tertinggi sejak 8 Juli 2020.

Sentimen positif dibawa Negeri Sakura, Nippon Steel berencana untuk meningkatkan produksi baja mentah pada Juli-September sebesar 7% dibandingkan April-Juni menjadi 7,7 juta ton.

Output perusahaan Oktober 2020-Maret 2021 diproyeksikan naik 13% dari April-September menjadi 17 juta ton.

JFE Steel juga mengharapkan kenaikan 8% pada produksi baja Juli-September menjadi 5,2 juta ton dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.

Perusahaan sedang memeriksa kemungkinan melanjutkan blast furnace yang dihentikan setelah Oktober sebagai tanggapan atas pulihnya permintaan.

Kenaikan produksi baja Jepang ini menjadi sentimen positif bagi harga batu bara lantaran kenaikan output memiliki korelasi positif dengan impor batu bara kokas.

Baca Juga: Proyek Semlter di Konawe Rekrut 5.000 Tenaga Lokal

Jika industri otomotif Jepang terus bangkit serta produksi baja terus mengalami pemulihan, maka kebutuhan batu bara kokas juga akan berangsur membaik.

Ini akan menjadi sentimen positif yang diharapkan mampu mengerek harga batu bara yang selama ini tertekan.