Iran Keluar dari Kesepakatan Nuklir, Minyak Sentuh US$70

Minyak mentah Brent menguat sekitar 6 persen sejak Jumat dan diperdagangkan di atas level US$70 per barel. Setelah Departemen Luar Negeri AS mengatakan ada “risiko tinggi” serangan rudal di dekat pangkalan militer dan fasilitas energi di Arab Saudi.

Iran mengatakan pada hari Minggu bahwa mereka tidak lagi menganggap dirinya terikat oleh perjanjian nuklir 2015. Padahal, perjanjian tersebut dinegosiasikan dengan AS dan kekuatan dunia lainnya sebagai respons dari pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani.

Harga minyak mentah melanjutkan lonjakan harga yang dramatis sejak Jumat pekan lalu. Ketika ketegangan antara AS dan Iran meningkat setelah pembunuhan salah satu jenderal paling kuat di negara tersebut.

Minyak melanjutkan penguatannya, naik setelah kenaikan lebih dari 20 persen pada 2019, karena peringatan itu menyusul retorika di akhir pekan. Presiden Donald Trump mengatakan. Dia siap untuk menyerang “dengan cara yang tidak proporsional” jika Teheran membalas pembunuhan Soleimani.

“Minyak akan tetap fluktuatif. Siap untuk melompat lebih tinggi dengan setiap berita utama. Hal ini menunjukkan perubahan menjadi lebih buruk.” Kata Vandana Hari, pendiri Vanda Insights di Singapura, seperti dikutip Bloomberg.

“AS dan Iran bertukar ancaman yang lebih besar secara berurutan selama akhir pekan dan Teheran telah menarik diri dari kesepakatan nuklir 2015. Menandai peningkatan ketegangan cepat yang dapat berubah menjadi krisis terburuk di Timur Tengah,” lanjutnya.

Brent Minyak Brent untuk kontrak Maret melonjak 2,14 persen atau 1,47 poin ke level US$ 70,07 per barel di ICE Futures Europe pada pukul 08.41 WIB. Kontrak naik 3,6 persen pada hari Jumat (3/1) dan mengakhiri sesi di level tertinggi sejak 16 September.

Baca Juga : Cadangan Minyak RI Naik Hampir 2x Lipat!

Sementara itu, minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman Februari naik sebanyak 1,9 persen menjadi US$64,25 di New York Mercantile Exchange pada pukul 08.48 WIB.

Departemen Luar Negeri AS mengatakan ada risiko serangan khususnya di provinsi timur Arab Saudi dan dekat perbatasan Yaman dan pangkalan militer serta fasilitas minyak dan gas.

Menanggapi pembunuhan komandan militer utamanya. Pemerintah Iran mengatakan tidak akan lagi tunduk pada batasan pengayaan uranium nuklirnya. Sementara parlemen Irak memilih untuk mengeluarkan pasukan AS dari negara tersebut.

Ketegangan yang meningkat antara AS dan Iran telah menyebabkan gangguan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Meskipun begitu, efek tersebut masih sementara.

Tahun lalu, Washington menyalahkan Teheran atas serangan sabotase terhadap supertanker dan serangan rudal dan drone pada pabrik pengolahan minyak mentah Abqaiq di Arab Saudi pada September, yang menyebabkan penghentian pasokan terbesar dalam sejarah industri.

Sumber : Market Bisnis