Investasi Sektor Minerba Diprediksi Bakal Meleset

Investasi Sektor Minerba Diprediksi Bakal Meleset

Investasi Sektor Minerba Diprediksi Bakal Meleset
Investasi Sektor Minerba Diprediksi Bakal Meleset

Sampai kuartal III bulan Agustus ini, investasi di bidang tambang tercatat masih belum bergerak secara optimal.

Bahkan berada pada level di bawah 30% dari target tahun 2020 yang dipatok sekitar US$ 7,75 miliar.

Realisasi investasi sektor mineral dan batubara (minerba) ditaksir bakal meleset target.

Hingga 23 Agustus 2020 realisasi investasi baru mencapai US$ 2,1 miliar. Angka itu baru setara dengan 27,1% dari target investasi minerba sebesar US$ 7,749 miliar.

Pandemi covid-19 sudah berdampak terhadap realisasi investasi di sektor tambang sejak bulan Mei lalu.

Hingga akhir tahun, ditaksir realisasi investasi akan turun sekitar 20% dari target yang dipatok tahun ini.

Realisasi investasi tahun ini bisa lebih rendah ketimbang capaian di tahun 2019 lalu.

Penyebab utamanya adalah gejolak di pasar komoditas yang membuat harga sebagian barang tambang merosot.

Pasar dan harga batubara anjlok. Begitu juga sejumlah komoditas mineral seperti tembaga, perak, timah dan nikel, meski beberapa waktu belakangan harganya mulai membaik.

Tercatat hanya emas yang harganya terjaga, bahkan mengalami lonjakan.

Dalam dua tahun terakhir realisasi investasi minerba selalu lebih tinggi dari target. Pada tahun 2019 misalnya, realisasi investasi minerba mencapai US$ 6,50 miliar melebihi target yang ditetapkan sebesar US$ 6,17 miliar.

Investasi tahun lalu didominasi dari izin usaha jasa pertambangan (39%), investasi prasarana dan mesin (30%), aktiva tidak berwujud (13%), dan lainnya yang mencakup bangunan, kapal, kendaraan dan alat-alat sebesar 18%.

Selain pasar dan harga yang tertekan, pandemi covid-19 juga membuat pengerjaan proyek pertambangan menjadi terhambat.

Khususnya dalam hal proyek hilirisasi atau smelter. Rencana investasi smelter di tahun ini sebenarnya mencapai US$ 3,76 miliar, jauh di atas realisasi investasi smelter tahun lalu yang berada di angka US$ 1,41 miliar.

Sebagai konsekuensi dari adanya proyek yang tertunda, investasi di lini pembangunan smelter pun bakal bergeser. Ada dua kemungkinan yang disimulasikan pemerintah.

Baca Juga: Harga Batu Bara Lesu Darah

Pertama, jika pandemi Covid-19 selesai pada pertengahan tahun ini.

Maka, investasi pada proyek smelter diperkirakan hanya akan terealisasi di angka US$ 1,9 miliar atau sekitar 50% dari target.

Kedua, jika Covid-19 berlanjut hingga akhir tahun, maka rencana investasi smelter di tahun ini akan bergeser ke tahun 2021 mendatang.