Investasi Minerba RI Terdampak Corona?

Investasi Minerba RI Terdampak Corona?

Investasi-Minerba-RI-Terdampak-Corona?
Investasi Minerba RI Terdampak Corona?

Staf Ahli Menko Bidang Kemaritiman Septian Hario Seto menerangkan ada dua hal yang mengganggu investasi di sektor hilir ini.

Pertama adalah tenaga kerja asing baik engineer maupun tenaga ahli yang berperan untuk membangun smelter. 

Kemenko Kemaritiman dan Investasi memperkirakan investasi di sektor mineral tahun ini akan mencapai US$ 10 miliar atau sekitar Rp. 150 triliun, khususnya untuk nikel.

Namun gara-gara corona virus (Covid-19) investasi di sisi hilir ini diproyeksikan bakal terganggu. 

“Ataupun lithium baterai yang sedang kita bangun saat ini statusnya belum bisa masuk ke Indonesia, jadi dengan tidak bisa masuknya tenaga ahli atau tenaga kerja asing yang dibutuhkan ini  tentunya investasi terhambat,” ungkapnya, Selasa, (17/03/2020)

Lebih lanjut dirinya mengatakan pihaknya akan memonitor langsung serta berkomunikasi langsung dengan perusahaan terkait secara rutin. Guna mencari upaya mitigasi yang bisa dilakukan sehingga invetasi bisa tetap berjalan. 

“Gangguan tetap terjadi dan kita lihat dampaknya bisa cukup signifikan investasi kita di tahun ini,” jelasnya. 

Menurutnya kondisi ekonomi di China saat ini berangsur membaik. Bahkan pabrik besi baja akhir bulan ini akan mulai beroperasi secara normal.

Kemudian transportasi umum juga diperkirakan akan kembali normal pada bulan ini. 

“Jadi mungkin permintaan pada beberapa komodias kita akan mengalami sedikit peningkatan,” terangnya. 

Risiko Lain Akibat Corona

Risiko lain akibat Covid-19 ini adalah China yang harus mengekspor produknya kembali ke luar negeri khususnya Eropa dan Amerika Serikat (AS) yang menjadi pasar terbesar mereka.

Dengan adanya kejadian luar biasa virus corona di Eropa dan AS akan berdampak pada permintaan terhadap barang-barang kebutuhan ekspor dari China. 

Baca Juga: Minyak Anjlok ke Level Terendah Lebih dari 18 Tahun

“Nah ini pada akhirnya akan mengganggu dan berpotensi menurunkan ekspor ke Tiongkok karena bahan material yang kita  supply ke Tiongkok akan terganggu, demand atas produk akhir yang di ekspor ke AS dan Eropa ataupun negara lain juga mengalami gangguan,” jelasnya. 

Sehingga akan sangat bergantung dari bagaimana upaya AS dan Eropa mengendalikan Covid-19. Jika virus ini dalam 1-2 bulan dibendung, maka recovery ekonomi di negara tersebut bisa jalan.

Namun jika AS dan Eropa kesulitan untuk membendung virus ini, serta pembatasan signifikan pada aktivitas masyarakat maka dampaknya recovery akan lebih lama. 

“Otomatis permintaan pada komoditas yang unggulan kita seperti batu bara, nikel itu juga akan terganggu,” paparnya.